Aksi Demonstrasi Mahasiswa ULM Diapresiasi, Taufik Arbain; Ini Gerakan Moral

Taufik Arbain, Pengamat Politik ULM
Taufik Arbain, Pengamat Politik ULM

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Aksi demontrasi dilakukan mahasiswa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Selatan (Kalsel) beberapa waktu lalu, diapresiasi Pengamat Politik sebagai gerakan moral. Terlebih, mengingatkan pemerintah mengenai peran dan fungsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI.

Hal itu, diungkapkan Pengamat Politik ULM Kalimantan Selatan, Dr Taufik Arbain. Ia menilai, gerakan itu merupakan bagian dari turut serta apresiasi apa yang selama ini menjadi perhatian rakyat Indonesia, dan bagian dari memberikan solidaritas antar gerakan mahasiswa di kawasan lain.

“Namun demikian, pada masa pandemi covid saat ini perlu ada pola-pola gerakan tidak kontradiktif dengan pesan-pesan dalam rangka penanggulangn Covid 19 dilakukan pemerintah, dan para mitra aktor bahkan seluruh masyarakat,” ungkapnya melalui rilis dibagikan pada Jumat (2/7/2021).

Sebab, kata dia saat ini pemerintah dan semua pihak termasuk Satgas Covid 19 Kalsel dari semua unsur hari ini berjuang mengkonstruksi dan mengimplementasikan aspek-aspek pola prilaku publik, komunikasi publik, gerakan vaksinasi, langkah preventif pada kebijakan PPKM dan lainnya agar keterpaparan Covid 19 pada masyarakat Kalsel tidak meningkat.

“Data menyebutkan di Indonesia terus meningkat kematian akibat keterpaparan Covid 19, termasuk di Kalsel karena menyebarnya varian baru yang begitu mencemaskan,” ungkap Dr Taufik Arbain juga merupakan Tim Pakar Penanggulangan Covid 19 ULM dan Anggota Satgas Covid-19 ini.

Menurut Taufik, tanpa mengurangi apresiasi dan hormat atas gerakan moral mahasiswa ini, ia mengimbau harus juga mampu memberi teladan dalam mengkomunikasikan pesan-pesan moralnya tanpa kontradiktif dalam konteks penanganan covid 19, diantaranya harus mengindahkan kalau ada petugas yang mengingatkan memakai masker, tidak berkerumun dalam konteks situasi normal, dan mengantisipasi dengan kelengkapan pencegahan lainnya.

“Pola-pola gerakan dengan cara “show of force” berupa pengerahan massa memang salah satu pilihan efektif dalam menarik perhatian publik, tetapi sebenarnya memungkinkan cara ini dikendalikan dengan pola tetap pada protokol kesehatan minimalis selama ada pembeda dengan memakai baju almamater, terlebih didesain dengan pesan-pesan gerakan yang esensial, dan pelibatan media yang masif dalam mengkomunikasikan pesan dan gerakan,” ungkap mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa atau Presiden Mahasiswa era 1998 ini.

Untuk itu, show of force (unjuk kekuatan) tidak sekadar dipahami sebagai sebuah gerakan moral, tetapi kondisi saat ini pun harus disertai dengan tanggung jawab moral terkait turut bersama menyelamatkan nyawa masyarakat.

Hal ini, kata dia tidak ada untuk mengurangi niat dan catatan kebaikan jika gerakan mahasiswa itu, bermasker karena tidak tampak siapa dia dan apa yang dilakukannya, kecuali wajahnya tak tampak dalam jepretan kamera. Atau tidak akan mendegradasikan maruah mahasiswa jika ada pihak lain memberikan perhatian untuk memakai masker dan meminimalkan kerumunan.

Justru saling take and give (mengambil dan memberi) dalam sebuah gerakan antar mahasiswa, elit politik, petugas, adalah teladan harus dikomunikasikan dengan masyarakat di Kalsel saat ini.

“Harus dipahami, negara kita bukan negara maju yang partisipatif atas aturan dominan karena kesadaran, tetapi negara kita ini negara berkembang yang masih menganut pengindahan dan taat aturan karena dorongan keteladanan. Mahasiswa dalam momentum gerakan aksi dan demo harus mengambil garda terdepan memberikan contoh demikian sebagai sebuah inovasi gerakan moral berselimut dengan tanggung jawab moral penyelamatan nyawa masyarakat,” ungkap dosen Fisip ULM ini.

(om/jk)