Lomba Puisi Daring, Tumbuhkan minat  Berbudaya dan Berbahasa banjar

Fahrani ( tengah ) bersama seniman kalsel Agus Suseno ( kiri ), Hajriansyah ( kanan ) mengumumkan pemenang lomba baca puisi secara daring

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJAR Guna menumbuh kembangkan kebudayaan daerah, terutama bahasa Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Karang Taruna Kabupaten Banjar selenggarakan lomba puisi daring. 

Kegiatan ini diadakan Karang Taruna, untuk terus memperkenalkan bahasa Banjar kepada masyarakat, terutama generasi muda. 

“Sebagai bahasa pergaulan yang terdapat di Kalimantan, perlu adanya perhatian pemerintah untuk tetap dipertahankan,” ujar seniman dan budayawan Kalsel, Agus suseno, saat menjuri dari Banjarmasin.

Menurutnya, bahasa Banjar rentan diintervensi bahasa asing, terutama di daerah Banjar Bakula (Banjarmasin, Banjar, Banjarbaru, Barito Kuala, dan Tanah Laut).

“Oleh karena itu, bahasa Banjar jangan sampai hilang dalam kehidupan sehari-hari,” harapnya.

Dirinya juga mengkritik Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2009, tentang Pemeliharaan Kesenian Daerah, dan Nomor 7 tahun 2009 tentang Bahasa dan Sastra Daerah, karena ia anggap tidak searah, lantaran belum dilengkapi dengan Peraturan Gubernur (Pergub). 

Padahal menurutnya, apabila ada payung hukum yang menaungi, geliat kesenian maupun sastra bahasa daerah akan lebih mudah dijalankan, guna menjadi acuan untuk membuat mata pelajaran. 

“Minimal menjadi acuan untuk pembuatan muatan lokal yang dapat diajarkan,” pintanya. 

Ia juga menilai, lomba baca puisi virtual oleh Karang Taruna Kabupaten Banjar, semacam oasis di tengah padang pasir, karena sudah sekian tahun tidak adanya geliat yang diselenggarakan. 

Sementara itu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Selatan, Fahrani, mengapresiasi lomba baca puisi ini, yang diadakan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda dan hari wafatnya Pangeran Antasari.

Fahrani, Anggota DPRD Kalsel

Adapun peserta yang mengikuti lomba ini berjumlah 108 orang se Kalsel, yang membacakan puisi wajib “Pesan-pesan Pangeran Antasari” dan puisi pilihan berbahasa Banjar. 

“Suatu apresiasi yang tinggi, ternyata peminat baca puisi bahasa Banjar cukup tinggi,” ungkapnya. 

Ke depannya, generasi muda khususnya di Bumi Lambung Mangkurat, ia harapkan lebih bangga dengan bahasa Banjar, serta budaya Banjar, agar menjadi kearifan lokal. 

Dirinya juga tidak memungkiri kemajuan perkembangan teknologi, yang mulai menggerus kreativitas generasi muda.

“Kita berharap majunya teknologi bisa berbarengan dengan prestasi generasi muda,” pungkasnya.

Editor : Ahmad MT