Warga Terdampak Banjir di Kecamatan Kuripan Harapkan Perhatian Khusus Pemkab Batola 

Kondisi salah satu rumah warga yang terendam banjir di Desa Jambu Baru

JURNALKALIMANTAN.COM, BARITO KUALA – Kecamatan Kuripan yang berada di ujung utara Kabupaten Barito Kuala (Batola), Provinsi Kalimantan Selatan, hampir setiap tahun menjadi langganan banjir. Hal serupa juga terjadi di Kecamatan Tabukan dan Bakumpai, bila memasuki musim penghujan.

Kepala Desa Jambu Baru Aslianoor menyampaikan, sudah hampir seminggu debit air semakin tinggi, yang mengakibatkan beberapa rumah dan fasilitas umum, Masjid Ar-Rahman di RT 4, dan SD Negeri Jambu Baru 2 juga terendam.

“Saat ini fasilitas pendidikan yang ada di Desa Jambu Baru 2 untuk sementara diliburkan, mengingat kondisi air semakin tinggi. Selain tidak maksimalnya proses belajar mengajar, juga berbahaya bagi anak didik,” ungkapnya.

Banjir juga sudah memberikan dampak terhadap kesehatan, yang mengalami gatal-gatal di kaki, seperti kutu air.

“Di desa saya, rumah dan fasilitas lain yang terdampak sebanyak 52 buah untuk sementara. Semoga secepatnya mendapat perhatian pemerintah daerah, hingga dapat membantu warga kami yang terdampak, mengingat saat ini warga tidak bisa beraktivitas seperti biasa,” tambah Asliannor.

Sementara itu, seorang warga Desa Jambu Baru Nasrullah, yang saat ini menempuh pendidikan S-3 di luar negeri menyampaikan pendapatnya, bahwa pemerintah kabupaten melalui instansi terkait mestinya sudah menyampaikan peringatan dini tentang potensi banjir, potensi pasang dan surut air, hingga perkiraan banjir.

“Jangan sampai masyarakat menerima secara alamiah kondisi ini tanpa ada penyampaian tentang perkiraan cuaca di wilayah potensi banjir,” paparnya melalui WhatsApp, saat dihubungi jurnalkalimantan.com, Ahad (28/1/24).

Ia juga mengingatkan warga, agar waspada terhadap dampak banjir, seperti adanya binatang buas, ular, dan potensi arus pendek.

“Pemerintah Kabupaten Batola juga mesti peka terhadap situasi lapangan. Penduduk yang rumahnya di tepi sungai dan terendam air sangat terganggu dengan lalu lintas sungai, yakni berbagai perahu yang menimbulkan gelombang. Imbauan itu agar mengurangi potensi gelombang yang disebabkan angkutan sungai terentu,” tambahnya.

Penanganan banjir ini menurutnya perlu ada proyek nasional terhadap Sungai Barito dan lingkungan sekitarnya, baik di Kalsel dan Kalteng, agar apat berfungsi mengurangi potensi banjir.

“Pemerintah Kota Banjarmasin, Pemkab Batola, Pemkab Hulu Sungai Selatan, Pemkab Barito Selatan, Pemkab Kapuas, Pemkab Barito Utara, dan Pemkab Murung Raya, perlu duduk bersama membahasnya,”  pungkas Nasrullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *