JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Merasa prihatin melihat kondisi tiga bersaudara, yakni Irwan Budiana (32), Ahmad (23), dan Agus (18) yang mengalami kelumpuhan sejak duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar, membuat Group Tilawah RRI Cinta Al-Qur’an Banjarmasin bersama Hj. Khasnah Azizah Sutarinda dan rombongan, merasa terpanggil untuk berkunjung, yang berlokasi di Jalan Pambataan RT 4 RW 02 Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Sabtu (23/3/2024).
Koordinator Group Tilawah RRI Cinta Al-Qur’an Banjarmasin Dra. Hj. Rahmawati Nuntji Abimanyu, M.I.Kom. mengungkapkan, berawal dari informasi yang didapat melalui media, rombongan pun merasa tersentuh dan berinisiasi untuk memberikan sedikit bantuan.
“Alhamdulillah setelah melihat tayangan di media, otomatis kita merasa tersentuh, kemudian kita lanjutkan ke Group Tilawah RRI Cinta Al-Qur’an bagaimana menyikapi hal ini, dan teman-teman pun merespons dan hari ini kita bergerak,” ungkapnya.
“Kemudian kita juga menginformasikan hal ini kepada Ibu Khasnah Azizah Sutarinda, dan beliau pun juga sangat respons, sehingga kita bersama-sama datang ke sini untuk melihat langsung kondisinya,” sambung Hj. Rahmawati.
Adapun bantuan yang diberikan terdiri dari Al-Qur’an, sembako, dan uang tunai.
“Kami hanya bisa mendoakan dan memberikan sedikit bantuan kepada mereka,” imbuhnya.

Koordinator Group Tilawah RRI Cinta Al-Qur’an menegaskan, bantuan berupa kitab suci kaum muslimin itu sangatlah penting, sebagai pedoman kehidupan umat manusia.
“Siapa tahu nantinya tiga anak ini bisa membaca Al-Qur’an sebagai mana yang diamanahkan sebelumnya,” harap Hj. Rahmawati.
Diakuinya, hal ini bukan dari program Group Tilawah RRI Cinta Al-Qur’an Banjarmasin, namun hanya bersifat spontan saja.
“Kemarin kami sudah melakukan khataman, dan ini sudah tahun yang ketiga grup ini,” jelasnya.
Kemudian Paridi (56), orang tua dari tiga anak tersebut, mengaku sangat senang dan berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan.
“Alhamdulillah dengan adanya bantuan sembako dan lainnya ini, kami sangat terbantukan, semoga dapat menjadi berkah,” ujarnya.
Paridi, yang kesehariannya adalah seorang buruh tambang pasir ini, sedikit menceritakan asal mula penyakit yang menimpa tiga anaknya.
“Diketahuinya, gejala ini muncul saat anaknya berusia kelas 5 dan 6 SD, dengan kaki yang mulai lemah dan harus bertumpu pada sesuatu,” katanya.
Kemudian setelah itu, Paridi pun membawa anaknya untuk diperiksa ke dokter, dan dikatakan ini adalah penyakit genetik.
“Ketiga orang anaknya ini mengalami hal yang sama, dengan gejala yang sama saat usia di kelas 5 dan 6 SD,” jelasnya.
Dari tujuh anaknya, yang terdiri dari empat laki-laki dan 3 perempuan, tiga di antaranya mengalami kelumpuhan, anak pertama Irwan Budiana, anak ke empat Ahmad, dan anak ke enam Agus.
(Saprian)














