Menjaga Warisan Budaya Banjar, Pandangan Ali Syahbana tentang Penobatan Raja Kebudayaan

Ali Syahabana. (Foto : Ist)

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJAR – Penobatan Raja Kebudayaan Banjar Kalimantan yang baru-baru ini digelar di Jakarta, menarik perhatian masyarakat.

Sebagian menyambutnya sebagai langkah positif untuk menghidupkan kembali budaya yang mulai terpinggirkan, sementara sebagian lainnya mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menjaga keselarasan dengan adat yang telah mengakar.

[feed_them_social cpt_id=59908]

Ali Syahbana, intelektual muda Banua sekaligus Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Banjar, yang juga memiliki keterikatan dengan garis keturunan adat melalui pihak ibu (dikenal dalam istilah Banjar sebagai andin), turut menyampaikan pandangannya.

“Sebagai bagian dari masyarakat Banjar, saya paham betul bahwa budaya Banjar bukan hanya tentang simbol atau gelar. Ia adalah identitas yang hidup, dan karenanya harus dijaga dengan rasa hormat dan tanggung jawab,” tegasnya kepada jurnalkalimantan.com, Selasa (13/5/2025).

Menurut Ali, pelestarian budaya adalah tugas bersama.

“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai budaya Banjar kepada generasi berikutnya. Ini bukan hanya soal sejarah, tetapi soal jati diri yang menyatukan kita sebagai satu masyarakat,” tambahnya.

Ali juga menekankan bahwa muruah budaya Banjar bukan hanya menjadi kebanggaan, tetapi menjadi dasar kokoh yang memperkuat ikatan sosial dan harmoni.

“Warisan ini mengikat kita dalam semangat kebersamaan. Di tengah zaman yang terus berubah, budaya Banjar harus tetap hidup dan bermakna,” tekannya.

“Kita perlu membuka ruang dialog, duduk, dan berdiri bersama, dengan hati yang jernih dan pikiran yang lapang, agar warisan budaya Banjar tetap tumbuh dan memberi nilai bagi generasi masa depan,” tutupnya.

(Tul/Ang)

[feed_them_social cpt_id=57496]