JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan M. Farhanie menyebut, keberhasilan pelaksanaan launching Sekolah Rakyat yang diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai hasil kerja cepat dan sinergi lintas sektor di tengah keterbatasan waktu persiapan.
Farhanie mengungkapkan, seluruh persiapan kegiatan hanya dilakukan dalam waktu sekitar satu minggu. Meski tergolong singkat, rangkaian acara dapat berjalan lancar berkat dukungan penuh Kementerian Sosial Republik Indonesia serta kerja keras seluruh pihak terkait.
“Persiapannya memang sangat mepet, tetapi Alhamdulillah launching Sekolah Rakyat hari ini berjalan sukses. Dukungan Kemensos luar biasa, termasuk pembangunan panggung yang proses pengurukannya hanya memakan waktu tiga hari dengan material yang didatangkan dari Surabaya,” ujar Farhanie.
Ia menilai kehadiran Presiden di Kalimantan Selatan menjadi momentum penting sekaligus penyemangat percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di daerah. Saat ini, proyek pembangunan telah berkontrak dan mulai berjalan sejak 17 November 2025 di tiga lokasi, yakni Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Tanah Bumbu, dan Kota Banjarbaru.
Khusus di Banjarbaru, lokasi pembangunan berada tepat di depan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS).
Selain tiga titik tersebut, pemerintah pusat juga membuka peluang penambahan dua lokasi pembangunan Sekolah Rakyat di Kalimantan Selatan. Dua lokasi yang diusulkan masing-masing berada di sekitar kawasan BBPPKS serta di Jalan Gubernur Sarkawi, di samping Rumah Sakit Sambang Lihum.
“Untuk lokasi di Jalan Gubernur Sarkawi, kondisi lahannya rawa sehingga waktu pembangunannya kemungkinan lebih lama, bisa mencapai 12 bulan. Namun lokasi tersebut sudah disetujui dan masuk rencana tahap lanjutan,” jelasnya.
Farhanie menyampaikan, progres pembangunan tiga lokasi tahap pertama saat ini masih berada pada tahap awal dengan capaian sekitar 8,8 persen, seperti pembersihan dan penyiapan lahan.
Pemerintah menargetkan pembangunan Sekolah Rakyat permanen rampung dalam waktu 240 hari agar siswa rintisan dapat dipindahkan dan mulai menempati gedung baru pada tahun ajaran Juli mendatang.
Setiap lokasi Sekolah Rakyat dirancang mampu menampung sekitar 1.000 hingga 1.200 siswa dengan sistem pendidikan terintegrasi mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Ia menegaskan, peserta didik Sekolah Rakyat diprioritaskan berasal dari keluarga miskin ekstrem dan miskin, terutama anak-anak yang putus sekolah, melalui proses asesmen ketat oleh pendamping sosial.
“Anak-anak ini memiliki potensi luar biasa. Sekolah Rakyat berbasis boarding school, sehingga selain pendidikan formal, pengembangan karakter, keagamaan, dan bakat anak juga menjadi fokus utama,” ujarnya.
Ia berharap, pembangunan Sekolah Rakyat di Kalimantan Selatan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam memutus mata rantai kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah.
(MC Kalsel/Ang)














