Opini  

Hidup untuk Melayani : Merawat Roh Keikhlasan, Membangun Raga Profesionalisme dalam Muhammadiyah

Muhazir Fanani. (Foto : Ist)

Oleh: Muhazir Fanani – Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Di tengah gemerlap dunia yang kian mengagungkan materi dan pencapaian individual, ada sebuah kalimat sederhana nan dalam yang terus bergema dalam sanubari para penggerak Muhammadiyah. Kalimat yang diucapkan oleh pendirinya, KH. Ahmad Dahlan, lebih dari seabad yang lalu: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

[feed_them_social cpt_id=59908]

Perkataan ini bukan sekadar semboyan usang. Ia adalah prinsip hidup, kompas moral, dan sekaligus paradigma perjuangan yang menjaga kesucian gerakan ini dari karat duniawi. Dalam konteks kekinian, di mana Muhammadiyah telah menjelma menjadi organisasi raksasa dengan ribuan amal usaha, prinsip ini justru menemukan relevansinya yang paling tajam.

Artikel ini hendak menyelami makna terdalam dari wejangan Sang Pencerah itu, melihat bagaimana ia diimplementasikan dalam tata kelola organisasi modern, dan mengapa dialektika antara ‘keikhlasan’ para pemimpin dan ‘profesionalisme’ para pekerja menjadi resep abadi keberlangsungan Muhammadiyah.

 “Hidup-Hidupilah Muhammadiyah”: Sebuah Falsafah Pengabdian Tanpa Batas

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah” adalah seruan untuk totalitas. Ia berarti menjadikan nilai-nilai, cita-cita, dan misi Muhammadiyah sebagai nafas kehidupan itu sendiri. Bekerja untuk Muhammadiyah bukan sekadar profesi atau aktivitas sambilan; ia adalah ibadah, pengabdian, dan panggilan jiwa. Para pemimpin dan penggerak inti diajak untuk mengosongkan diri dari kepentingan pribadi, mengedepankan kemaslahatan umat, dan menjadikan organisasi sebagai medium untuk menghambakan diri kepada Allah SWT.

Kata kunci di sini adalah Ikhlas. Keikhlasan adalah fondasi spiritual yang membuat gerakan ini tegak. Dalam perspektif KH. A. Dahlan, ikhlas berarti membersihkan amal dari segala noda riya’, sum’ah, dan pamrih duniawi. Ia adalah motivasi intrinsik murni: berbuat baik karena itu benar, melayani karena itu panggilan, dan membangun karena itu tanggung jawab kepada bangsa dan agama.

Keikhlasan inilah yang menjadi “modal non-materi” terbesar Muhammadiyah. Ia yang menyatukan ribuan hati dalam satu tujuan, melampaui perbedaan latar belakang dan kepentingan. Ia pula yang menjadi magnet kebaikan, menarik banyak pihak untuk berpartisipasi tanpa harus diiming-imingi balasan duniawi.

Dampaknya nyata. Keikhlasan kolektif ini melahirkan amanah yang luar biasa. Kekayaan organisasi yang begitu besar—berupa tanah wakaf, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, dan aset lainnya—terjaga dengan baik karena dikelola oleh orang-orang yang memandangnya sebagai titipan Allah dan umat, bukan lahan untuk memperkaya diri. Tak ada cerita tentang korupsi besar atau penyalahgunaan aset organisasi untuk kemewahan pribadi di tubuh Muhammadiyah, karena roh “hidup-hidupilah Muhammadiyah” telah membangun sistem imun spiritual yang kuat.

“Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah”: Pagar Antara Pengabdian dan Pemerasan

Kalimat kedua, “jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” adalah peringatan yang tegas. Ia adalah benteng terhadap penyalahgunaan. Muhammadiyah didirikan bukan sebagai lapangan pekerjaan atau sumber penghidupan bagi para pendirinya. Ia adalah ladang amal. Peringatan ini sangat kontekstual, terutama ketika organisasi sudah besar dan memiliki banyak sumber daya.

Mencari hidup di Muhammadiyah berarti menjadikan organisasi sebagai sapi perah, memanfaatkan posisi dan akses untuk menumpuk kekayaan pribadi, atau berjuang hanya untuk mendapat jabatan dan fasilitas. Sikap seperti ini akan meracuni organisasi dari dalam, mengubah semangat pelayanan menjadi mental pegawai, dan menggerogoti kepercayaan publik. KH. A. Dahlan dengan visionernya telah melihat potensi penyimpangan ini sejak awal.

Dalam konteks kepemimpinan, prinsip ini mensyaratkan pengorbanan. Banyak pimpinan Muhammadiyah, dari level ranting hingga pusat, yang bekerja tanpa gaji atau dengan tunjangan yang sangat kecil, jauh dari standar profesional di sektor swasta. Mereka menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran, seringkali dengan mengorbankan urusan bisnis atau karir pribadi mereka. Mereka “hidup” dari sumber lain, lalu menghidupkan Muhammadiyah dengan segala yang mereka punya. Inilah kemurnian perjuangan yang harus terus dipelihara.

Dialektika Keikhlasan dan Profesionalisme: Dua Sisi Mata Uang yang Saling Melengkapi

Lantas, apakah prinsip keikhlasan bertentangan dengan kebutuhan untuk membayar para pekerja di amal usaha Muhammadiyah? Sama sekali tidak. Di sinilah kecerdasan dan keadilan organisasi ini bekerja. Muhammadiyah dengan sangat arif membedakan antara “relawan jiwa” (para pimpinan dan penggerak sukarela) dengan “pekerja profesional” di lembaga-lembaga operasionalnya.

Para pimpinan di struktur organisasi (Pimpinan Cabang, Daerah, Wilayah, Pusat) adalah para “relawan jiwa”. Mereka digerakkan oleh roh “hidup-hidupilah Muhammadiyah”. Sumbangsih mereka adalah pengabdian yang tulus.

Di sisi lain, rumah sakit Muhammadiyah membutuhkan dokter dan perawat yang handal. Universitas Muhammadiyah memerlukan dosen dan peneliti berkompetensi tinggi. Sekolah membutuhkan guru yang mumpuni. Mereka adalah pekerja profesional. Agar dapat berkonsentrasi penuh dan memberikan kinerja terbaik, mereka berhak dan harus mendapatkan gaji yang pantas, kompetitif, dan sesuai dengan standar pasar serta beban tugasnya. Pemberian gaji yang profesional ini bukan pengingkaran terhadap keikhlasan, tetapi sebuah bentuk keadilan (al-‘adalah) dan penghargaan atas expertise (al-ihsan).

Dengan demikian, Muhammadiyah membangun sebuah ekosistem yang sehat. Keikhlasan adalah roh yang menjaga kemurnian niat dan integritas organisasi. Profesionalisme adalah raga yang memastikan pelayanan berjalan efektif, efisien, dan berkualitas tinggi. Keikhlasan tanpa profesionalisme bisa jadi hanya menghasilkan semangat tanpa karya yang maksimal. Profesionalisme tanpa keikhlasan rentan melahirkan mental pekerja yang hanya mengejar gaji tanpa memiliki jiwa pelayanan.

Implementasi dalam Tata Kelola: Menjaga Keseimbangan yang Dinamis

Praktiknya, Muhammadiyah telah mengembangkan sistem yang mencerminkan dialektika ini. Di tingkat kebijakan, Majelis dan Pimpinan Pusat yang diisi oleh para pelaku ikhlas, membuat grand design dan regulasi yang memastikan amal usaha dikelola dengan prinsip good governance, termasuk di dalamnya pemberian remunerasi yang layak.

Lembaga-lembaga seperti AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) diharapkan tidak hanya mandiri secara finansial, tetapi juga mampu menjadi penopang gerakan melalui zakat, infaq, dan shadaqah, serta membiayai kegiatan dakwah dan pembinaan. Kesejahteraan para pekerja AUM adalah investasi untuk meningkatkan kualitas layanan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan keberlangsungan lembaga.

Perhatian terhadap kesejahteraan guru, dosen, tenaga kesehatan, dan karyawan lain adalah bukti bahwa Muhammadiyah bukan organisasi yang “pelit” atau mengeksploitasi. Justru, dengan menjamin kehidupan yang layak bagi pekerjanya, Muhammadiyah memastikan bahwa pelayanan kepada umat berjalan optimal. Ini adalah bentuk tanggung jawab sosial organisasi kepada para anggotanya sendiri.

Tantangan Kekinian dan Relevansi Abadi Pesan Dahlan

Di era sekarang, tantangannya semakin kompleks. Godaan materialisme semakin kuat. Kompetisi di dunia pendidikan dan kesehatan semakin ketat. Menjaga kemurnian “roh keikhlasan” di tubuh pimpinan menjadi tantangan tersendiri, sementara di saat yang sama harus bersaing untuk merebut dan mempertahankan talenta-talenta profesional terbaik di pasar kerja yang kompetitif.

Pesan KH. A. Dahlan justru menjadi penawar utama. Ia mengingatkan bahwa apapun modernnya tata kelola, secanggih apapun manajemennya, jika roh “mencari hidup di Muhammadiyah” mulai menyusup, maka organisasi akan kehilangan jati diri dan keberkahannya. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan keikhlasan tanpa membangun sistem profesional, Muhammadiyah akan ditinggal oleh masyarakat yang haus akan layanan berkualitas.

Oleh karena itu, pendidikan karakter dan pembinaan ideologis terhadap kader, serta pembangunan sistem remunerasi yang adil bagi pekerja, harus berjalan beriringan. Kader harus terus ditanamkan jiwa “hidup-hidupilah Muhammadiyah”, sementara para profesional didorong untuk tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga memahami visi-misi gerakan sehingga mereka bekerja tidak hanya untuk gaji, tetapi juga dengan semangat pelayanan.

Menjemput Keberkahan dengan Ikhlas, Mencapai Keunggulan dengan Profesional

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah” adalah falsafah yang lengkap. Ia adalah tameng dari korupsi dan penyalahgunaan wewenang, sekaligus panduan untuk membangun dedikasi tanpa batas. Ia tidak anti-kesejahteraan, tetapi menempatkan kesejahteraan pada konteksnya yang tepat: sebagai buah dari kerja profesional, bukan sebagai tujuan dari penyertaan dalam organisasi.

Muhammadiyah yang kita cintai tumbuh besar karena para pendahulu kita menghidupinya dengan seluruh jiwa raga mereka, tanpa memedulikan harta benda duniawi. Kini, warisan itu harus kita kelola dengan cerdas dan profesional, agar aset yang telah tertumpuk dapat menghasilkan pelayanan terbaik bagi umat dan bangsa. Dengan menjaga roh keikhlasan para pemimpin dan menyemai etos profesionalisme di setiap lini amal usaha, kita yakin Muhammadiyah akan terus “hidup” menghidupkan peradaban, bukan sekadar “dicari hidup” oleh orang-orang yang berpamrih.

Marilah kita renungkan kembali pesan Sang Pencerah itu. Jadilah bagian dari mereka yang menghidupi, bukan yang mencari hidup. Di situlah letak kemuliaan, keberkahan, dan sustainability gerakan Islam yang telah memberi begitu banyak cahaya bagi negeri ini. Wallahu a’lam bish-shawab.

DAFTAR REFERENSI

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Muhammadiyah.

Burhani, Ahmad Najib. (2013). Muhammadiyah Berkemajuan: Pergulatan Identitas dan Ideologi. Bandung: Mizan.

Mulkhan, Abdul Munir. (2010). Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah dalam Perspektif Perubahan Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.

Nashir, Haedar. (2010). Muhammadiyah: Gerakan Pembaruan. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Nashir, Haedar. (2015). Memanusiakan Hubungan Industrial: Refleksi Pemikiran dan Praktik di Lingkungan Muhammadiyah. Yogyakarta: UAD Press.

Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).

Quthb, Sayyid. (2001). Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an). Jakarta: Gema Insani Press.

[feed_them_social cpt_id=57496]