Banjar  

Banjir Rendam Lahan Pertanian, 1.297 Hektare Sawah di Banjar Alami Puso

Salah satu lahan pertanian di Kab Banjar. (Foto : Dyt)

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJAR – Dinas Pertanian Kabupaten Banjar mencatat seluas 1.297 hektare lahan sawah mengalami puso atau gagal panen, akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah. Banjir tersebut berdampak signifikan terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman padi.

Kepala Dinas Pertanian Warsita mengatakan, banjir yang dipicu perubahan iklim tersebut merendam lahan pertanaman padi di beberapa kecamatan. Berdasarkan pendataan sementara, total benih padi yang terdampak mencapai 6.780 kilogram, benih lacakan 250 kilogram, serta tanaman padi yang telah ditanam seluas sekitar 1.563 hektare.

[feed_them_social cpt_id=59908]

“Dari luasan tersebut, yang dinyatakan puso atau tidak dapat diselamatkan sama sekali mencapai 1.297 hektare. Untuk benih, dari 6.780 kilogram itu, sebanyak 6.445 kilogram dinyatakan puso. Sedangkan dari benih lacakan 250 kilogram, sebanyak 147 kilogram mengalami puso,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).

Kadis menjelaskan, wilayah terdampak terbesar berada di Kecamatan Beruntung Baru dengan luas puso sekitar 991 hektare. Berikutnya Kecamatan Martapura Barat terdampak sekitar 141 hektare, dan Kecamatan Martapura Timur sekitar 121 hektare.

Menurut Warsita, penetapan status puso dilakukan oleh Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di lapangan. Data tersebut selanjutnya menjadi dasar pengusulan bantuan, baik melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun dari pemerintah pusat.

“Selain itu, kami juga telah melaksanakan rapat dengan Kementerian Pertanian, khususnya terkait program cetak sawah rakyat dan optimalisasi lahan. Seluruh lahan terdampak akan kami inventarisir,” jelasnya.

Bantuan yang diusulkan antara lain berupa benih padi serta dukungan sarana dan prasarana pertanian. Untuk alat dan mesin pertanian, sebagian telah disalurkan kepada kelompok tani dan brigade pangan.

“Harapannya ketika kondisi iklim membaik, petani dapat segera melakukan pengolahan lahan dan percepatan tanam,” kata Warsita.

Selain tanaman padi, Dinas Pertanian juga masih melakukan pendataan terhadap dampak banjir pada komoditas hortikultura, seperti cabai. Namun sejauh ini, kerusakan paling signifikan terjadi pada tanaman padi.

Kadis menambahkan, sebagian lahan padi telah masuk dalam program asuransi pertanian. Di Kecamatan Martapura Barat, lahan seluas sekitar 90 hektare telah mengajukan klaim asuransi, sementara di Kecamatan Martapura Timur sekitar 24 hektare.

“Klaim asuransi tetap berjalan, namun bantuan dari pemerintah juga tetap kami ajukan agar petani dapat segera bangkit,” tegasnya.

Warsita pun mengimbau kelompok tani dan brigade pangan agar memanfaatkan bantuan alsintan secara optimal, guna mempercepat pengolahan lahan dan penanaman.

“Target kita percepatan tanam. Jika kondisi cuaca sudah memungkinkan, petani diharapkan bisa segera menanam kembali, bahkan diupayakan dua kali tanam, mengingat musim kemarau diperkirakan datang lebih cepat,” pungkasnya.

(Dyt/Ahmad M)

[feed_them_social cpt_id=57496]