ST Telemedia Perluas Pendanaan Rp8,8 Triliun untuk Ekspansi Data Center di Indonesia

Gedung ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC) (https://www.sttelemediagdc.com/)

JURNALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC) memperluas platform pendanaan di Indonesia dengan nilai mencapai Rp8,8 triliun atau sekitar USD 500 juta. Pendanaan ini akan digunakan untuk mendukung pengembangan kampus pusat data STT Jakarta, termasuk pembangunan fasilitas terbaru, STT Jakarta 3.

Skema pendanaan ini menggunakan struktur dua mata uang (dual-currency) dalam rupiah dan dolar AS, sekaligus memperkenalkan tranche pinjaman hijau (green term loan) pertama STT GDC di Indonesia.

Country Head STT GDC Indonesia, Hendrikus Gozali, mengatakan langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat infrastruktur digital nasional.

Menurutnya, ekspansi tersebut juga sejalan dengan meningkatnya kebutuhan layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), dan komputasi berkinerja tinggi di Indonesia.

“Pendanaan ini mendukung ekspansi berkelanjutan sekaligus menunjukkan komitmen kami terhadap pengembangan infrastruktur digital yang efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.

Tranche hijau tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan STT Jakarta 3 di kawasan Cikarang, Bekasi. Secara keseluruhan, kampus STT Jakarta ditargetkan memiliki kapasitas lebih dari 360 MW ketika seluruh fasilitas beroperasi penuh.

Fasilitas ini dirancang untuk mendukung teknologi pendingin modern, termasuk liquid cooling dan advanced air-cooling, guna mengakomodasi kebutuhan komputasi generasi terbaru.

Dari sisi keberlanjutan, STT Jakarta 3 menargetkan efisiensi energi dengan Power Usage Effectiveness (PUE) sebesar 1,30 serta sertifikasi LEED Gold.

Pendanaan ini juga selaras dengan prinsip pinjaman hijau internasional dan didukung sejumlah perbankan, di antaranya Bank OCBC NISP, HSBC Indonesia, dan Bank Negara Indonesia (BNI).

Dengan struktur pendanaan yang fleksibel, STT GDC membuka peluang ekspansi lanjutan tanpa perlu restrukturisasi, seiring pertumbuhan permintaan layanan pusat data di Indonesia. (Viz)