Cegah Radikalisme,Polda Kalsel Gelar Pengajian di HSS

Foto Bersama Polda Kalsel dengan pengurus masjid Muhammadiyah Istiqamah usai pengajian di Kandangan Hulu sungai selatan

JURNALKALIMANTAN.COM, HULU SUNGAI SELATAN –  Dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme di Kabupaten Hulu Sungai Selatan atau HSS, Kepolisian daerah (Polda) Kalimantan Selatan (Kalsel) bekerjasama dengan Pengurus Masjid Muhammadiyah Istiqamah Kandangan HSS menggelar kegiatan pengajian, Jum’at (28/10/2022).

Kegiatan yang dilaksanakan ba’da Maghrib itu mengangkat tema “Meningkatkan Kewaspadaan Dini dari Bahaya Intoleran, Radikalisme dan Terorisme”, dgn penceramah Ustad Lutfil Aziman LC dari kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

[feed_them_social cpt_id=59908]

Dalam ceramahnya, Ustad Lutfil menyampaikan, Islam mengajarkan kasih sayang dan cinta damai, Islam membenci adanya kekerasan, permusuhan, menghargai perbedaan, toleransi dan anti radikalisme yang mengarah pada terorisme.

“Agama Islam itu mengajarkan Kasih sayang dan cinta damai namun membenci kekerasan dan permusuhan,”ucap Ustad Lutfil dalam ceramahnya.

Ditambahkannya, Aksi Jihad dengan cara menghancurkan dan membunuh itu tidak dibenarkan dalam Islam karena Islam mengajarkan kedamaian bukan kekerasan.

“Jihad dengan membunuh dan menghancurkan itu salah dan tidak dibenarkan dalam Islam,”tegasnya.

Nabi Muhammad SAW diutus untuk menuntun dan menyelamatkan ummat manusia, di dunia dan di akhirat kelak.

Jika ada orang yang memiliki pandangan bahwa membunuh ummat muslim halal dan negara adalah kafir maka orang ini sudah memiliki paham yang salah.

Sementara itu, Direktorat Intelkam Polda Kalsel, IPTU Agus Murti, menyampaikan kepada pengurus Masjid Istiqamah bahwa, Intoleransi adalah awal terbentuknya radikalisme lalu ekstremisme dan terakhir dalam bentuk aksi terorisme.

“Itu artinya intoleransi ini awal atau benih dari radikalisme dan terorisme,”paparnya.

Aksi kelompok radikalisme saat ini telah merambah Sekolah, Perguruan Tinggi, Pesantren dan Masjid, terangnya.

Isu intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang merajalela di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh faktor seperti agama, ekonomi atau pendidikan namun ada faktor lain memicu terjadinya intoleransi dan radikalisme ataupun dalam membentuk seseorang menjadi radikal yaitu faktor psikologis.

“Intoleransi, radikalisme dan terorisme merupakan musuh bangsa Indonesia karena tidak sesuai dengan ideologi dan konsensus dasar negara. Kejahatan teroris merupakan kejahatan luar biasa dan kejahatan transnasional oleh karena itu setiap negara perlu mengantisipasinya sedini mungkin,”tutupnya.

(Yunn)

[feed_them_social cpt_id=57496]