JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel), Firman Yusi, menilai kopi asal Kalsel memiliki peluang besar untuk menembus pasar global.
“Saya optimistis, kopi Kalsel berpeluang masuk pasar dunia,” ujar Firman Yusi saat dikonfirmasi, Rabu (28/1/2026).
Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin itu mengungkapkan, sejak duduk di Komisi II DPRD Kalsel, pengembangan komoditas kopi daerah menjadi salah satu perhatiannya.
Dikutip dari Antara News Kalsel, Politisi partai keadilan sejahtera Kalsel ini menyebutkan sejumlah sampel kopi Kalsel yang telah diuji coba oleh beberapa koleganya bahkan mulai menarik minat pasar Eropa.
Namun demikian, Firman mengingatkan adanya hal penting yang harus menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan.
“Ada informasi krusial yang perlu menjadi konsen bersama, khususnya terkait kebijakan perdagangan internasional,” ujarnya.
Sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kalsel itu menjelaskan, pada 29 Juni 2023 Uni Eropa mengesahkan regulasi baru bernama European Union Deforestation Regulation (EUDR), yang diprediksi akan mengubah lanskap perdagangan komoditas global, termasuk kopi.
Menurutnya, regulasi tersebut mewajibkan seluruh produk yang masuk ke pasar Uni Eropa untuk membuktikan bahwa komoditas tersebut bebas dari deforestasi, yakni tidak berasal dari lahan yang mengalami deforestasi atau degradasi hutan setelah 31 Desember 2020, serta diproduksi sesuai hukum negara asal.
“Bagi produsen kopi dunia, kebijakan ini menjadi alarm sekaligus kompas baru,” jelas Firman.
Anggota DPRD Kalsel dua periode itu menilai tantangan EUDR memang tidak ringan, namun bukan sesuatu yang mustahil untuk dihadapi.
“Justru di balik standar tinggi EUDR terdapat peluang untuk memperkuat kedaulatan petani, menjaga sisa hutan Kalimantan, serta meningkatkan nilai dan martabat kopi Kalsel di pasar internasional,” katanya.
Firman menegaskan, kunci keberhasilan menghadapi tantangan tersebut terletak pada kolaborasi lintas sektor, inovasi berkelanjutan, serta komitmen jangka panjang semua pihak.
“Dengan kerja keras bersama, EUDR bukan menjadi akhir cerita, melainkan awal babak baru kopi Kalsel yang lebih lestari, lebih adil, dan lebih bermakna. Kopi Kalsel bukan sekadar komoditas, tetapi duta pelestarian yang dinikmati dunia,” pungkasnya.(YUN)














