Gubernur Kalsel Tekankan Toleransi di Tengah Perbedaan Penetapan Idulfitri

Gubernur Kalsel dan Wakilnya saat menyampaikan sambutan usai salat Idul Fitri di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Sabtu (21/3/26). (Foto : Mc Kalsel)

JURNANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan di tengah adanya perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Hal tersebut disampaikannya usai melaksanakan Salat Idulfitri di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Sabtu (21/3/2026).

Didampingi Wakil Gubernur Hasnuryadi Sulaiman, Sekretaris Daerah Kalsel Muhammad Syarifuddin, serta Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel Muhammad Tambrin, Muhidin menyampaikan bahwa pelaksanaan Salat Idulfitri berlangsung khidmat dengan antusiasme tinggi dari masyarakat.

Menurutnya, jumlah jamaah yang hadir sangat besar hingga hampir memenuhi seluruh area masjid.

“Ini luar biasa, masyarakat yang hadir sangat banyak, hampir seluruh tempat penuh. Bahkan pelaksanaan sebelumnya juga sudah dipadati jamaah,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengapresiasi kualitas imam dalam memimpin salat yang dinilai sangat baik, sehingga menambah kekhusyukan ibadah. Hal tersebut, kata Muhidin, menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Dengan imam yang luar biasa, ini mengingatkan kita bahwa kita masih memiliki kekurangan dan dosa. Mudah-mudahan setelah menjalani ibadah puasa, kita bisa terus meningkatkan ibadah dan mengakhiri hidup dalam keadaan baik,” katanya.

Terkait adanya perbedaan penetapan Idulfitri, Muhidin menegaskan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah dan kerap terjadi, baik di Indonesia maupun di berbagai negara.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak memperdebatkan perbedaan tersebut, melainkan tetap menghormati keyakinan masing-masing.

“Perbedaan itu biasa, ada yang melihat hilal, ada yang menggunakan metode lain. Yang penting masyarakat meyakini apa yang menjadi pedomannya, baik itu dari ormas, pemerintah, maupun keyakinan masing-masing,” jelasnya.

Muhidin menekankan, selama masyarakat menjalankan ibadah sesuai keyakinan dan tetap menjaga toleransi, perbedaan tidak akan menjadi persoalan.

“Siapapun, yang penting meyakini. Kalau sudah meyakini bahwa sudah masuk Idulfitri, maka silakan dirayakan. Tidak perlu diperdebatkan, karena perbedaan itu hal yang wajar,” tutupnya.

(Adv/MC Kalsel)