JURNALKALIMANTAN.COM, HULU SUNGAI SELATAN – Upaya memperkuat ekonomi desa terus didorong Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, H. Kartoyo, S.M., melalui penerapan nyata Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.
Saat menyambangi Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, kemarin, H. Kartoyo menegaskan bahwa perda tersebut tidak boleh berhenti sebatas sosialisasi, tetapi harus menjadi instrumen kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat desa.
Ia menilai Taniran Kubah memiliki potensi ekonomi yang telah tumbuh secara mandiri, khususnya di sektor pembibitan tanaman, sehingga perlu diperkuat melalui dukungan regulasi dan pembiayaan yang tepat sasaran.
“Di sini masyarakat sudah bergerak, sudah produktif. Tugas pemerintah tinggal memperkuat. Perda ini menjadi dasar agar bantuan yang diberikan jelas arah dan manfaatnya,” ujar Politisi Partai Nasdem Kalsel tersebut.
Menurutnya, keberadaan perda menjadi penting untuk menentukan kelompok usaha mana yang layak didukung, sekaligus memastikan program pemberdayaan berjalan berkelanjutan, bukan bersifat bantuan sesaat.
H. Kartoyo juga menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan dukungan anggaran apabila pada tahun berjalan belum tersedia pembiayaan.
“Kalau tahun ini belum bisa, akan kita dorong masuk pada penganggaran 2027. Yang penting aktivitas ekonomi masyarakat tidak berhenti,” tegasnya.
Kondisi tersebut diperkuat oleh keterangan Kepala Desa Taniran Kubah, Supiani, yang menyebut perubahan pola ekonomi warga terjadi setelah kondisi banjir di wilayah itu berangsur membaik dalam lima tahun terakhir.
Sebelumnya, banjir kerap membuat warga kesulitan bertani. Namun seiring stabilnya kondisi lingkungan, masyarakat mulai mengembangkan usaha pembibitan tanaman sebagai sumber penghasilan baru.
“Dulu sering banjir, kada bisa bahuma. Sekarang warga fokus ke pembibitan. Alhamdulillah, ini sangat membantu ekonomi keluarga,” ungkap Supiani.
Usaha pembibitan yang dijalankan warga kini berkembang pesat. Berbagai jenis bibit seperti cabai, terong, tomat, semangka, hingga sayuran diproduksi secara rutin, dengan jangkauan pemasaran tidak hanya di Kalimantan Selatan, tetapi juga hingga Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
Dalam satu tahun, sedikitnya 100 ribu bibit tanaman diproduksi dan dipasarkan dari desa tersebut.
Kartoyo menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa desa mampu tumbuh jika diberi ruang dan dukungan kebijakan yang tepat.
“Ini bukti bahwa pemberdayaan bukan sekadar program, tapi tentang menjaga agar usaha masyarakat bisa naik kelas,” pungkasnya.(YUN)














