Inginkan Nilai Tambah Produksi Jeruk, Para Petani Sampaikan Aspirasi ke Karlie Hanafi

Saat reses, Anggota DPRD Kalsel, Karlie Hanafi Kalianda Datangi Perkebunan Jeruk Di Batola

JURNALKALIMANTAN.COM, BARITO KUALA -Hasil panen jeruk di Kabupaten Barito Kuala (Batola), saat ini sedang berlimpah, yaitu bisa mencapai 5.000 ton per petani. Sedangkan harganya di tingkat petani juga lumayan bagus, yaitu mencapai Rp5.000,00 per kilogram.

Namun demikian, para petani jeruk di daerah sentra perkebunan jeruk, yaitu di Desa Karang Indah, Puntik Dalam, dan Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, masih berharap hasil panen jeruk mereka bisa memberikan nilai tambah secara ekonomi.

Hal itu terungkap saat Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), DR. H. Karli Hanafi Kalianda, S.H., M.H. melakukan reses, yaitu menggali aspirasi di daerah pemilihannya, Rabu (28/10/2020).

“Hasil pertanian jeruk saat ini memang sudah cukup bagus, tapi kami mengharapkan ada nilai tambah, seperti di Pulau Jawa, banyak makanan atau minuman ringan yang dibuat dari buah apel,” ujar M. Zaini, Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Karang Indah.

Padahal tambah Zaini, jeruk dari desanya ini bisa dibuat minuman kemasan, serbuk jeruk, keripik jeruk, dan sebagainya.

Menanggapi aspirasi yang dilontarkan, dalam kegiatan reses yang menerapkan protokol kesehatan (prokes) ini, Karlie Hanafi yang berasal dari Fraksi Partai Golkar mengatakan, untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil jual produksi jeruk, bisa dengan mencontoh daerah lain yang telah sukses melakukannya.

“Aspirasi ini akan saya sampaikan kepada pihak yang berkompeten di tingkat provinsi maupun kabupaten untuk ditindaklanjuti, sehingga harapan masyarakat bisa benar-benar direalisasikan, yaitu memberikan nilai tambah pada produksi jeruk, yang saat ini pemasarannya sudah mencapai Pulau Jawa,” ujarnya.

“Dengan memberikan nilai tambah pada hasil pertanian jeruk, pada gilirannya akan meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat petani di daerah ini,” sambungnya.

Selain jeruk, lima desa yang dikunjungi Karli dalam kegiatan resesnya, yaitu Karang Indah, Puntik Dalam, Jejangkit Muara, Jejangkit Pasar, dan Karang Bunga, semuanya mengandalkan pertanian padi sebagai mata pencarian utama warganya.

“Masyarakat di lima desa yang saya kunjungi, mengandalkan pertanian padi lokal dan padi unggul sebagai mata pencarian,” katanya.

Hasil pertanian padi, mencukupi untuk kebutuhan pangan sehari-hari dan selebihnya untuk dijual. 

Untuk pertanian padi ini, masyarakat mengharapkan distribusi pupuk bisa tepat waktu. Sebab petani mengeluhkan distribusi yang sering terlambat. 

“Artinya saat diperlukan, yaitu saat musim tanam, pupuk bersubsidi tidak tersedia. Justru di saat tidak diperlukan, yaitu saat panen, justru pupuk tersedia,” ujarnya.

Untuk masalah pupuk ini, Karli juga akan mencarikan solusi dengan mempertanyakan proses distribusinya ke instansi yang berwenang, baik di tingkat provinsi maupun kecamatan.

Berbagai permasalahan lain juga terungkap dalam kegiatan reses ini, seperti permohonan perbaikan jalan dan jembatan, masalah keamanan dan ketertiban masyarakat, kesenian, olahraga, dan lain-lain.

Kegiatan reses ini mendapat sambutan antusias dari warga yang didatangi, namun mengingat prokes, warga yang datang dibatasi, sehingga tidak menimbulkan kerumunan, dengan tetap menggunakan masker dan menjaga jarak.

Editor : Ahmad MT

[feed_them_social cpt_id=57496]