JURNALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Sehubungan dengan inisiatif pemerintah, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dengan menggulirkan paket insentif ekonomi di bulan Juni 2025, Otoritas Jasa Keuangan menegaskan dukungan upaya-upaya dimaksud, karena dinilai akan memperkuat daya beli dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Setidaknya hal ini disampaikan dalam Siaran Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB), Senin (2/5), atas nama Pelaksana Tugas Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi Muhammad Ismail Riyadi.
“OJK bersama-sama dengan kementerian dan lembaga terkait dan industri jasa keuangan, terus bekolaborasi melakukan upaya-upaya mendorong intermediasi yang optimal, pendalaman pasar keuangan, dan upaya-upaya pengembangan potensi industri yang prospektif, termasuk mendukung segmen usaha mikro, kecil, dan menengah,” tegasnya.
Hal-hal tersebut dilakukan, lanjut Ismail, dalam rangka mendorong pembiayaan yang lebih inklusif, guna memungkinkan potensi-potensi ekonomi Indonesia lebih dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, dalam RDKB yang dilakukan pada 28 Mei lalu, menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan tetap terjaga, di tengah dinamika tensi perdagangan dan geopolitik global.
“Dinamika perdagangan internasional menunjukkan perkembangan, setelah terjadinya kesepakatan dagang antara AS dan Inggris pada 8 Mei, yang merupakan kesepakatan permanen pertama AS dengan negara lain pascapenundaan penerapan resiprokal tarif,” jelas Ismail.
Lebih lanjut, kesepakatan dagang sementara AS–Tiongkok pada 12 Mei yang berlaku selama 90 hari, turut menurunkan tensi perdagangan global. Pelaku pasar menyambut baik kesepakatan tersebut, sehingga mendorong penguatan pasar keuangan global, diikuti juga oleh penurunan volatilitas pasar keuangan dan capital inflow ke pasar negara berkembang.
“Ketegangan geopolitik meningkat di beberapa kawasan. Kendati demikian, dampaknya terpantau dapat terlokalisir sehingga imbasnya ke pasar keuangan global masih terbatas,” urai Ismail.
Rilis pertumbuhan ekonomi global pada kuartal pertama tahun 2025 menunjukkan pelemahan diikuti oleh berlanjutnya penurunan inflasi yang menunjukkan pelemahan permintaan global. Menyikapi hal tersebut, kebijakan moneter global semakin akomodatif dengan beberapa bank sentral telah menurunkan suku bunga, menyuntikkan likuiditas ke pasar, atau menurunkan reserve requirement. Kebijakan fiskal global juga cenderung ekspansif meski ruang fiskal terbatas.
Di tengah perkembangan tersebut, The Fed menyiratkan kebijakan “Fed Fund Rate (FFR) high for longer”, menunggu kepastian dari kebijakan tarif dan dampaknya terhadap berberapa indikator perekonomian.
“Hal ini mendorong pasar menurunkan estimasi penurunan FFR menjadi 2 kali di tahun 2025 (dari sebelumnya 3-4 kali penurunan), dengan penurunan pertama diprakirakan mundur ke bulan September,” jelas Ismail.
Pasar juga terus mencermati rencana penerbitan Undang-Undang One Big Beautiful Bill yang diperkirakan meningkatkan defisit fiskal AS, sehingga Moodys menurunkan rating AS. Beberapa hal tersebut mendorong pelemahan pasar obligasi dan nilai tukar AS.
Sementara itu, perekonomian domestik masih menunjukkan resiliensinya di tengah tingginya dinamika global. Pertumbuhan ekonomi masih positif pada Q1-2025, meskipun dengan laju yang sedikit melambat menjadi 4,87%.
“Permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga, tetap menjadi motor utama yang tumbuh sebesar 4,89% year on year,” papar Ismail.
Selanjutnya inflasi dalam negeri tetap terjaga tercatat sebesar 1,95% (Mar-25: 1,03%), masih dalam rentang target bank sentral.
Beberapa indikator perekonomian terkini juga masih menunjukan resiliensi, di antaranya neraca perdagangan yang terus mencatat surplus, defisit transaksi berjalan menyempit menjadi 0,05% produk domestik bruto (sebelumnya 0,87%).
“Dan cadangan devisa tetap stabil di level tinggi,” pungkas Ismail.
(Ian)














