Penurunan Angka Stunting Banjarmasin Berdasarkan Hasil SSGI

Penurunan angka stunting
Dr. M. Ramadhan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina, pada beberapa waktu lalu menyebut penurunan angka stunting di wilayahnya cukup signifikan, yakni pada angka 5,4%, turun dari 27,8% menjadi 22,4%.

Hal itu dijelaskan Kepala Dinas Kesehatan berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022.

[feed_them_social cpt_id=59908]

“Kita mengambil data itu. Kalau jumlah anak _stuntingnya_ tidak disebutkan dalam buku saku SSGI itu, hanya persentasenya saja,” ungkap Dr. M. Ramadhan, S.E., M.E., Ak., C.A. pada jurnalkalimantan.com, Jumat (07/04/2023).

Penurunan itu menurutnya, sesuai dengan upaya yang telah dan terus pihaknya lalukan, didasari dengan pembentukan TP2S (Tim Percepatan Penurunan Stunting) Kota Banjarmasin yang diketuai Wakil Wali Kota Arifin Noor.

“Isu strategis bidang kesehatan itu ada 4, salah satunya adalah stunting. Intervensi penurunan stunting itu ada 2, intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Kita pada sektor kesehatan spesifik 30%, sedangkan 70% intervensi sensitif dilaksanakan oleh lintas satuan kerja peragkat daerah,” beber Ramadhan.

Ada beberapa intervensi spesifik yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, di antaranya skrining anemia pada remaja putri, konsumsi tablet tambah darah remaja putri (52 tablet selama 1 tahun), pemeriksaan kehamilan, konsumsi tablet tambah darah pada ibu hamil (minimal 90 tablet selama hamil), dan pemberian makan tambahan ibu hamil (kekurangan energi kronik).

“Banyak lagi, seperti pemantauan tumbuh kembang anak balita, memastikan bayi diberikan ASI secara eksklusif, pemberian makanan tambahan (PMT) pada balita, baik bahan pabrikan yang dari Kemenkes maupun lokal, peningkatan cakupan imunisasi, dan promosi PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat),” urai Ramadhan.

Selain itu, pihaknya juga melakukan deklarasi kelurahan ODF (tidak buang air besar sembarangan), peningkatan kepesertaan penerima bantuan iuran BPJS Kesehatan, pelakasanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), setiap 6 bulan bayi dan balita mendapatkan vitamin A, tata laksana gizi buruk, promosi dan konseling PMBA (Pemberian Makanan Bayi Anak), pelaksanaan kelas ibu hamil, dan kelas ibu balita.

“Juga 100% kelurahan di kota kita sudah melaksanakan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat), kita juga memberikan informasi atau pemahaman sasaran tentang _stunting_ melalui pelaksanaan komunikasi efektif, dan pemenuhan antropometri standar Kemenkes di seluruh posyandu di Kota Banjarmasin yang berjumlah 395 posyandu,” jelas Ramadhan.

Menurutnya, penyebab utama stunting di antaranya akibat asupan gizi dan nutrisi yang kurang mencukupi kebutuhan anak. Yang juga sangat berpengaruh adalah kesalahan pola asuh, akibat kurangnya pengetahuan dan edukasi bagi ibu hamil dan ibu menyusui.

“Juga buruknya sanitasi lingkungan tempat tinggal, seperti kurangnya sarana air bersih, dan tidak tersedianya sarana MCK yang memadai, makanya perlu peran semua pihak, makanya 70% itu harus dibantu oleh lintas satuan kerja perangkat daerah,” pungkas Ramadhan.

Ahmad Ihsan/Achmad MT

[feed_them_social cpt_id=57496]