JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Keterbatasan pasokan gula industri dari pemerintah pusat menjadi tantangan serius menjelang Ramadan di Kalimantan Selatan. Pembatasan distribusi dinilai berdampak langsung pada ketersediaan gula konsumsi di pasaran dan memicu kenaikan harga.
Ketua Asosiasi Gula Bersatu Kalsel, H. Aftahuddin atau yang akrab disapa H. Aftah, mengungkapkan bahwa izin impor gula mentah untuk kebutuhan industri memang telah diterbitkan. Namun, alokasi distribusinya dibatasi, yakni 60 persen untuk pabrikan dan 40 persen untuk BUMN.
“Ini jadi musibah juga bagi kita. Saat masuk Ramadan, kesiapan penyaluran ke BUMN belum optimal. Akhirnya industri banyak yang mengeluh dan menggunakan gula konsumsi,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (17/2/2026).
Kondisi tersebut membuat stok gula konsumsi di pasar terserap untuk kebutuhan industri makanan dan minuman. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga pun ikut terdongkrak.
“Itu hukum ekonomi. Permintaan banyak, barang kurang, harga naik. Jadi bukan permainan pedagang,” tegasnya.
Aftah menyebut kebutuhan gula di Kalimantan Selatan selama Ramadan mencapai sekitar 15.000 ton per bulan, meningkat dari rata-rata kebutuhan normal sekitar 12.000 ton per bulan. Lonjakan ini dipicu oleh maraknya pasar murah, penjualan paket sembako, serta meningkatnya produksi pelaku UMKM.
Saat ini, stok gula tercatat sekitar 60.000 ton dengan harga eceran Rp17.000 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp16.000 per kilogram. Meski kenaikan dinilai cukup terasa, pihaknya berupaya agar harga tidak melonjak lebih tinggi.
Minyak Goreng Juga Dikawal Ketat Selain gula, koperasi juga mengawal distribusi minyak goreng sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Namun, pasokan minyak goreng pun belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan.
Dari kebutuhan sekitar 40 kontainer menjelang Ramadan, baru sebagian yang tersedia. Distribusi yang ada diprioritaskan untuk operasi pasar agar masyarakat tetap memperoleh harga sesuai standar pemerintah.
“Kita khususkan banyak untuk operasi pasar. Tujuannya supaya masyarakat tetap dapat harga standar pemerintah,” jelasnya.
Koperasi bersama sejumlah organisasi usaha dan komunitas terus menggelar pasar murah sebagai langkah stabilisasi harga bahan pokok.
Aftah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying karena dapat memperparah kelangkaan di tingkat ritel.
“Jangan panic buying. Kalau diborong, barang kosong, harga naik lagi. Kita berusaha supaya stok tetap ada dan harga stabil,” katanya.
Ia memastikan pihaknya terus berkoordinasi dengan kementerian terkait guna memperkuat pasokan, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri.
“Walaupun mahal, kita tetap usahakan tersedia. Ini momen ibadah, jadi kebutuhan masyarakat harus kita jaga,” pungkasnya.
(Ian)














