JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Suasana di Markas Polresta Banjarmasin mendadak berubah tegang ketika sebuah insiden tak biasa terjadi pada Senin siang (30/03/2026). Seorang pria tak dikenal tiba-tiba muncul dan bertingkah agresif, membuat aparat yang berada di lokasi langsung bersiaga.
Sekitar pukul 13.20 Wita, pria berpostur tinggi besar itu masuk ke area lapangan apel dengan mengendarai sepeda motor matik. Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan, ia datang sambil membawa seorang balita laki-laki yang tampak kebingungan.
Tanpa ragu, ia memarkirkan kendaraannya tepat di tengah lapangan seolah sengaja mencari perhatian. Tak lama berselang, emosinya meledak. Helm yang dipegangnya dilempar ke tanah, disusul teriakan keras bernada ancaman yang ditujukan kepada anggota polisi di sekitarnya.
Di tengah amarahnya, pria itu menuntut hal yang tak masuk akal. Ia meminta polisi mengganti handphone miliknya yang disebut hilang, namun tanpa penjelasan yang jelas. Situasi pun semakin sulit dipahami karena emosinya terus meningkat.
Melihat kondisi tersebut, petugas memilih untuk tidak bertindak gegabah. Sejumlah anggota Satreskrim dan provost mendekat secara perlahan, menjaga jarak aman sambil berupaya menenangkan pria tersebut. Di saat yang sama, perhatian juga tertuju pada keselamatan balita yang berada dalam situasi berisiko.
Kesempatan datang ketika pria itu mulai kehilangan fokus. Petugas pun bergerak cepat dan berhasil mengamankannya tanpa insiden lebih lanjut. Seorang polisi wanita langsung mengevakuasi balita dari lokasi, memastikan anak tersebut berada dalam kondisi aman.
Setelah situasi terkendali, pria itu dibawa ke ruang Satreskrim untuk diperiksa. Dari proses pemeriksaan yang dilakukan secara persuasif, terungkap fakta yang cukup mengejutkan.
Kanit Jatanras Iptu Boy Carter mewakili Kasat Reskrim Kompol Eru Alsepa menyampaikan, bahwa pria tersebut mengaku datang karena mendengar “bisikan gaib” yang mendorongnya ke lokasi.
Tak hanya itu, sebelum kejadian, ia sempat berada di toilet masjid di lingkungan Mapolresta bersama anaknya. Di sana, ia merasa handphone miliknya hilang. Kecurigaan tersebut kemudian berkembang menjadi tuduhan terhadap polisi yang memicu ledakan emosinya.
“Namun setelah dilakukan pemeriksaan, fakta sebenarnya justru berbeda. Handphone yang ia kira hilang ternyata tersimpan di dalam tas miliknya sendiri,” ungkap Iptu Boy.
Saat ini, pihak kepolisian masih berupaya menghubungi keluarga pria tersebut guna mengetahui latar belakang dan kondisinya. Jika ditemukan indikasi gangguan kejiwaan, polisi akan merekomendasikan penanganan lebih lanjut secara medis.
(Api/Ahmad M)














