Tingkatkan Literasi Publik, BI Kalsel Bekali Insan Media Strategi Penulisan Ekonomi

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Aloysius Donanto H.W, (tengah) saat membuka kegiatan. (Foto : Ih)

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) Kalimantan Selatan mengajak insan media Banua untuk terus mengembangkan kapasitas dalam penulisan berita ekonomi, agar mampu menghasilkan karya jurnalistik yang mudah dipahami serta berdampak positif bagi masyarakat.

Kegiatan yang mengangkat tema “Dari Rumit ke Relevansi : Strategi Menyampaikan Isu Ekonomi agar Mudah Dipahami Masyarakat” ini, dibuka oleh Deputi Kepala KPw BI Kalsel Aloysius Donanto H.W., di salah satu hotel di Kabupaten Tanah Bumbu, Selasa (10/2/2026).

[feed_them_social cpt_id=59908]

Ia menekankan, penulisan berita ekonomi tidak hanya dituntut menarik, tetapi juga harus memperhatikan dampaknya terhadap publik. Menurutnya, jurnalis perlu memiliki kepekaan dan filter sebelum menyampaikan informasi kepada masyarakat.

“Selain konteks, kami ingin kawan-kawan jurnalis memiliki filter. Bisa bertanya pada diri sendiri, apakah ini benar, baik, dan perlu disampaikan. Ini menjadi penyeimbang dalam mengolah informasi dan mendalami dampaknya bagi masyarakat,” ujar Deputi.

Ia menegaskan, pendekatan tersebut tidak mengurangi fungsi jurnalistik sebagai penyampai informasi dan kontrol sosial.

“Tetap jujur dan tajam, tetapi masyarakat tidak salah mengartikan dan dapat memahami informasi secara mudah dan benar,” tambah Aloysius.

Sementara itu, Wakil Kepala Desk Ekonomi dan Bisnis Harian Kompas Aris Prasetyo, memaparkan sejumlah strategi agar berita ekonomi lebih menarik dan diminati pembaca.

Narasumber (kiri) menerima cendera mata dari Kepala Unit Kehumasan Bank Indonesia Kalimantan Selatan.

Menurutnya, jurnalis tidak hanya terpaku pada data dan angka, tetapi perlu menyajikannya dengan pendekatan yang lebih membumi.

Beberapa strategi yang disampaikan antara lain penggunaan analogi sederhana, fokus pada dampak langsung, humanisasi data, serta bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Misalnya menjelaskan inflasi dengan perumpamaan harga satu mangkuk bakso akan lebih efektif dibandingkan definisi buku teks. Selalu hubungkan kebijakan besar dengan pengeluaran rumah tangga atau kesejahteraan keluarga,” jelas jurnalis senior yang akrab disapa Apo tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan sosok nyata yang terdampak isu ekonomi. Contohnya saat membahas kenaikan inflasi dan biaya hidup, berita bisa diawali dari kisah bon utang di warung-warung kecil.

Kegiatan ini turut diisi materi oleh Kepala Unit Kehumasan BI Kalsel Tisna Faisal Ayathollah, dan diikuti sekitar 50 insan media se-Kalsel.

(Ih/Ahmad M)

[feed_them_social cpt_id=57496]