JURNALKALIMANTAN.COM, BANJAR – Dengan teliti, Ahmad Junaidi melukiskan pola desain daun di sebuah papan. Tak lama, ia pun mengukirnya di gergaji mesin, dalam gudang berukuran 6 x 9 meter. Fasilitas yang didapatnya usai penuh perjuangan, dari awal merintis di sebuah garasi.
Terkadang, teman-temannya pun sempat bercanda iri, karena tak memiliki garasi rumah, layaknya para pengusaha top dunia, yang juga memulai bisnisnya secara sederhana.
Ia menggeluti usaha mikro, kecil, dan menengah bidang dekorasi rumah ini sejak Februari 2017. Dari kediamannya di kawasan Cempaka Banjarmasin, tercetus ide membuat talenan dari ulin, dengan nama produk Osan, gabungan kata nama kecilnya bersama sang istri.
Cita-citanya pun mulia, ingin agar lebih banyak lagi warga Indonesia berbangga memiliki kayu khas Banua, meski hanya berukuran potongan kecil untuk keperluan dapur.
“Nah pada saat nanti bahan bakunya habis misalnya, maka orang-orang dapat berbangga masih memiliki talenan ulin, karena bisa dipakai lebih dari umur hidup penggunanya,” ucap Junaidi, saat ngobrol santai di halaman gudangnya, yang satu lahan dengan Rumah Makan Fauzan di kawasan Gambut, Kabupaten Banjar.
Kekhawatirannya ini pula yang membuatnya belum berkeinginan memasuki dunia ekspor. Karena lebih memilih kayu Ulin dimiliki masyarakat Indonesia, daripada nantinya punah tak bersisa ke luar negara.
Belum lagi cerita Junaidi, ribetnya administrasi berbisnis lintas negeri, menjadikannya lebih tertarik menyasar pasar nusantara, yang memang juga menjadi sasaran perusahaan-perusahaan besar dunia.
Dengan fokus ke dalam negeri, ia pun yakin para pelaku UMKM juga bisa sejahtera, apalagi bisa menembus 33 provinsi, yang dibandingkan dengan Eropa Barat, sudah mencakup 11 negara.
Belum lagi dukungan-dukungan berbagai pihak, yang bisa membuat pelaku UMKM naik kelas, seperti dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan.
“Di Bank Indonesia bagus sekali, karena mereka totalitas, sangat totalitas. Jadi, kita betul-betul didukung. Tidak hanya dibina, tapi juga difasilitasi, dilatih. Dilatih pun dengan mentor-mentor yang bagus,” tegas Junaidi.
Ia pun mengaku salut dengan perhatian penuh yang diberikan Bank Indonesia, membeli produk-produk para pelaku UMKM, termasuk mengajak ikut pameran-pameran di berbagai daerah.
Sejak dibina dari 2021, omzet Osan Indonesa turut terangkat, yang semula Rp5 jutaan, kini berada di Rp25 jutaan per bulan.
Dengan makin meluasnya jaringan, ia pun sudah bisa mempekerjakan sejumlah orang, belum lagi kerja sama dengan pengrajin lainnya, guna memenuhi permintaan pasar.
“Memang pemerintah dan BUMN golnya UMKM ini selalu ekspor, padahal kan tidak mesti, kenapa tidak menjual ke Kalteng, ke Kaltim, ke Jakarta. Kalau kita ngejual ke Indonesia, otomatis resellernya orang Indonesia juga, lapangan kerja bagi orang Indonesia,” urai Junadi.
Dunia ekspor memang sempat menjadi momok bagi pelaku UMKM, seperti yang bergerak di bidang kerajinan. Salah satunya yang pernah dialami Nugroho, pengekspor produk-produk tas mode dari rotan.
Pernah keliling eropa, ia pun akhirnya banting setir mengelola lembaga pendidikan, seiring lemahnya SDM lokal, yang waktu itu sulit dipegang komitmennya, berkaitan dengan kualitas dan ketepatan waktu penyelesaian.
“Kalau ada sentra-sentra pengrajin, tentu lebih mudah, bisa juga menjadi pusat wisata,” ucapnya.
Lewat masukan-masukan dari para pelaku UMKM ini, pihak-pihak terkait diharapkan bisa terus menunjang pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah.
Apalagi sektor ini telah menjadi salah satu penopang perekonomian nasional, yang menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, berkontribusi 61,97% terhadap Produk Domestik Bruto, atau senilai Rp8.500 triliun. Selain itu, juga menyerap 97% dari total tenaga kerja yang serta, serta dapat menghimpun sampai 60,4% dari total investasi.
Sehingga, sudah saatnya para pelaku UMKM bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri!
(Achmad Magfur)














