PATAKA “Angkat Batang Tarandam” Lewat Batamba Massal

Perkumpulan Panambaan Tanah Kalimantan (PATAKA) menggelar aksi sosial Batamba Massal di Lapangan dr. Murdjani, Banjarbaru, Ahad (20/9/26). (Foto: Rizani)

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Perkumpulan Panambaan Tanah Kalimantan (PATAKA) menggelar aksi sosial Batamba Massal di Lapangan dr. Murdjani, Banjarbaru, Ahad (20/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari aksi sosial yang digelar selama sepekan, sekaligus menjadi ruang bagi para terapis dan tukang pijat tradisional untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

PATAKA merupakan perkumpulan para terapis dan tukang pijat khas Kalimantan, yang memiliki keterampilan dalam memberikan pelayanan pengobatan tradisional melalui teknik pijat dan metode _panambaan_ yang diwariskan turun-temurun.

Aksi sosial tersebut juga bersinergi dengan Borneo Riders Brotherhood (BRB) dan komunitas motor besar (moge), yang turut mendukung rangkaian kegiatan sosial tersebut.

Ketua Umum PATAKA, Yahya mengatakan, pihaknya hadir untuk memberikan pelayanan sekaligus memperkenalkan kembali pengobatan tradisional khas Kalimantan kepada masyarakat.

Menurutnya, teknik panambaan yang dilakukan para anggota PATAKA, antara lain digunakan untuk membantu menangani keluhan seperti pegal-pegal, keseleo, kebas, asam urat, kolesterol, asam lambung, sakit kepala, vertigo hingga saraf terjepit.

Salah satu metode tradisional yang turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut, adalah bekam api. Yahya menjelaskan, bekam api digunakan untuk membantu memperlancar peredaran darah serta meredakan sejumlah keluhan pada tubuh.

“Sakit kepala, membuang angin, keseleo, bisa itu,” ungkap Yahya.

Sementara itu, Penasihat PATAKA, H. Diap Hirsa mengatakan, keberadaan perkumpulan ini tidak hanya berkaitan dengan pelayanan tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga budaya dan pengetahuan leluhur Kalimantan.

Menurutnya, tradisi paurutan leluhur kini mulai kurang dikenal oleh generasi muda. Karena itu, pihaknya berupaya menghidupkan kembali pengetahuan tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.

“Remaja-remaja tidak tahu apa itu terapis, apa itu paurutan leluhur kita. Jadi kita mencoba seperti mengangkat batang tarandam,” ujar H. Diap.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali tradisi panambaan kepada generasi muda, sekaligus menjaga warisan budaya Kalimantan agar tetap dikenal dan tidak ditinggalkan.

(Tul/Ahmaf M)