Belum Ada Kasus, Kalsel Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Virus Nipah

Ilustrasi (Foto : vietnam.vn)

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Meski hingga akhir Januari 2026 belum ditemukan kasus Virus Nipah di Kalimantan Selatan, Pemerintah Provinsi Kalsel tetap mengambil langkah antisipatif dengan memperkuat kesiapsiagaan sistem kesehatan di seluruh wilayah.

Langkah tersebut dilakukan oleh Dinas Kesehatan, sebagai tindak lanjut atas Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Penyakit Zoonosis Emerging, termasuk Virus Nipah yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi.

[feed_them_social cpt_id=59908]

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kalsel Anhar Ihwan mengatakan, penguatan kewaspadaan difokuskan pada deteksi dini serta respons cepat di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

“Walaupun belum ada laporan kasus, kami tidak ingin menunggu sampai terjadi. Rumah sakit dan puskesmas diminta meningkatkan kewaspadaan sejak dini sebagai bentuk perlindungan bagi masyarakat,” ujarnya dilansir pada laman MC Kalsel, Sabtu (7/2/2026).

Kabid menjelaskan, seluruh fasilitas kesehatan di Kalsel telah diinstruksikan memperketat surveilans epidemiologi, khususnya terhadap pasien dengan gejala demam akut yang disertai gangguan pernapasan atau gangguan saraf, terlebih bila memiliki riwayat paparan risiko.

Menurut Anhar, langkah ini penting, mengingat Virus Nipah dapat berkembang cepat dan menimbulkan komplikasi berat apabila tidak segera ditangani.

“Kunci pengendalian ada pada kecepatan. Jika terdapat gejala yang mengarah, pelaporan harus dilakukan segera agar penanganan bisa lebih efektif,” jelasnya.

Selain penguatan surveilans, Dinkes Kalsel juga menegaskan penerapan standar pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di fasilitas kesehatan, termasuk kewajiban penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis, guna meminimalkan risiko penularan di lingkungan layanan kesehatan.

Tidak hanya pada sektor pelayanan kesehatan, Dinkes juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga kewaspadaan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mencurigakan.

“Belum adanya kasus bukan berarti kita lengah. Kesiapsiagaan adalah cara terbaik agar Kalimantan Selatan tetap aman,” tegas Anhar.

Seperti diketahui, Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang disebabkan oleh virus dari genus Henipavirus dengan reservoir alami kelelawar buah (Pteropus). Penularan dapat terjadi melalui hewan perantara, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, maupun kontak erat antar manusia.

Secara klinis, infeksi Virus Nipah dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut hingga gangguan saraf berat seperti ensefalitis, dengan tingkat kematian dilaporkan mencapai 40 hingga 75 persen.

Meski Indonesia belum pernah mencatat kasus pada manusia, peningkatan kewaspadaan terus dilakukan, mengingat potensi risiko di kawasan Asia Tenggara.

Dengan langkah antisipatif ini, Pemprov berharap kesiapan sistem kesehatan tetap terjaga, sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat.

(MC Kalsel/Ahmad M)

[feed_them_social cpt_id=57496]