Cedera Tak Kunjung Pulih? Ahli Sebut Masalah Utama Ada di Saraf, Bukan Otot

Pembahasan masalah otot yang dibahas di acara DRI community Day

Dari pengalamannya menangani berbagai kasus cedera, Irca menemukan sejumlah kesalahpahaman umum yang sering membuat proses pemulihan tidak optimal. Berikut beberapa hal penting yang perlu dipahami masyarakat agar dapat pulih dengan benar.

1. Cedera Tidak Selalu tentang Otot
Bagi Irca, memahami hubungan antara saraf dan otot adalah langkah pertama menuju pemulihan. “Saraf adalah kabel utama tubuh kita. Kalau kabelnya terganggu, pesan dari otak ke otot jadi tidak sampai. Akibatnya, otot bisa terasa tegang, lemah, atau nyeri, meskipun secara struktur sebenarnya baik-baik saja,” jelasnya.

[feed_them_social cpt_id=59908]

Ia menambahkan bahwa sinyal tubuh sering kali diabaikan, padahal tubuh sebenarnya selalu memberi peringatan dini. “Tubuh itu pintar. Kalau ada nyeri yang muncul berulang di tempat yang sama, atau sensasi kebas yang makin sering, itu alarm dari sistem saraf. Jangan tunggu sampai cedera parah baru diperiksa,” kata Irca.

DRI Clinic membantu pasien menata ulang keseimbangan tubuh dari pusat kendalinya, yaitu saraf. Pendekatan ini tidak hanya untuk atlet, tapi juga bagi siapa pun yang aktif bekerja, berolahraga, atau mengalami nyeri berulang akibat postur tubuh yang salah.

2. Pemulihan Harus Dimulai dari Akar Masalah
Pendekatan neurologi menempatkan sistem saraf sebagai pusat kontrol seluruh fungsi tubuh. Namun, menurut Irca, sebagian besar terapi konvensional masih berfokus pada perbaikan gejala di permukaan. Kalau penanganan hanya fokus pada otot tanpa menelusuri jalur sarafnya, hasilnya seperti menambal ban tanpa mencari paku penyebabnya, alias cepat bocor lagi.

“Setiap tubuh itu unik. Karena itu, kami tidak memberikan terapi yang seragam. Kami menilai bagaimana otak, saraf, dan otot berkomunikasi. Kalau salah satu tidak seimbang, hasil pemulihan tidak akan optimal,” terang Irca.

3. Saraf Sehat, Pemulihan Lebih Cepat
Sistem saraf yang berfungsi optimal memungkinkan tubuh merespons gerakan dengan akurat. Menurut dr. Irca, inilah kunci pemulihan yang sering luput diperhatikan. “Begitu jalur saraf dibenahi, komunikasi otak dan otot jadi lebih efisien. Gerak tubuh kembali seimbang, dan proses penyembuhan berlangsung alami,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pasien perlu memahami perbedaan antara nyeri otot dan nyeri saraf. “Nyeri otot biasanya terasa pegal atau tegang setelah aktivitas fisik. Tapi kalau nyerinya menusuk, menjalar, atau muncul tanpa sebab jelas, besar kemungkinan sumbernya ada di saraf,” tambahnya.

DRI Clinic menggunakan pendekatan berbasis data untuk memantau kemajuan terapi pasien. Alat diagnostik modern membantu mengukur kecepatan konduksi saraf, kekuatan otot, serta keseimbangan tubuh sebelum dan sesudah perawatan. “Kami ingin semua prosesnya terukur. Pasien bisa lihat sendiri perbedaannya, bukan sekadar ‘merasa lebih baik’,” ujar Irca.

4. Pencegahan Cedera Dimulai dari Pemeriksaan Saraf
Menurut Irca, cedera bukan hanya masalah atlet. Pekerja kantoran, guru, bahkan ibu rumah tangga juga bisa mengalami gangguan saraf akibat posisi tubuh yang salah atau kebiasaan berulang. “Duduk delapan jam di depan laptop tanpa jeda bisa memengaruhi keseimbangan postur dan membuat saraf tertekan. Lama-lama, muncul nyeri punggung, bahu, atau kesemutan di tangan,” ujarnya.

Ia menganjurkan pemeriksaan saraf secara berkala, terutama bagi mereka yang aktif bergerak. “Pemeriksaan saraf bukan hanya untuk orang yang sakit. Ini bagian dari pencegahan. Kita bisa tahu sejak dini apakah ada ketidakseimbangan yang bisa memicu cedera,” katanya.

5. Pemulihan yang Baik Bukan Soal Cepat, Tapi Tepat
Banyak pasien ingin segera kembali beraktivitas begitu rasa sakit mereda. Namun, menurut dr. Irca, regenerasi saraf berjalan jauh lebih lambat dibandingkan otot.

“Kalau dipaksakan terlalu cepat, cedera bisa kambuh. Pemulihan itu bukan sprint, tapi maraton. Yang penting bukan cepat sembuh, tapi pulih dengan benar,” ujarnya

Pendekatan ini sejalan dengan pesan Nofi, yang menegaskan pentingnya proses latihan yang konsisten dan bertahap.
“Kalau kita tidak melatih tubuh secara bertahap, risiko cedera meningkat. Tubuh itu seperti karet. Kalau jarang digunakan, bisa putus ketika ditarik,” ujarnya.

Menurutnya, banyak orang hanya fokus pada kekuatan fisik tanpa memerhatikan kesiapan sistem saraf. “Kebugaran itu bukan cuma soal otot kuat, tapi juga sinergi antara saraf dan otot. Kalau salah satunya tidak siap, cedera pasti lebih mudah terjadi,” tegasnya.

Pendekatan neurologis ini sejalan dengan prinsip kebugaran yang diajarkan di UNJ, di mana kesiapan sistem saraf menjadi bagian penting dalam mencegah cedera

DRI Clinic juga menjalin kerja sama strategis dengan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan UNJ untuk memperkuat integrasi teori dan praktik di bidang neurologi, kedokteran olahraga, dan rehabilitasi fisik.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas penerapan pendekatan neuro recovery di dunia akademik.(Viz)

[feed_them_social cpt_id=57496]