Jelang Kartini 2026, Perempuan Indonesia Utamakan Keluarga

‎Survei ini juga menyoroti kuatnya fenomena sandwich generation di Indonesia. Sebanyak 96 persen perempuan memperkirakan akan menanggung kebutuhan perawatan orang tua lanjut usia, baik saat ini maupun di masa depan. Namun, hanya 26 persen yang telah menyisihkan minimal 10 persen pendapatan untuk kebutuhan tersebut.

Akibatnya, banyak perempuan menghadapi beban berlapis atau “triple penalty”. Sebanyak 59 persen responden menyebut tanggung jawab pengasuhan menghambat peningkatan keamanan finansial, sementara masing-masing 47 persen mengaku terdampak pada perkembangan karier dan kemampuan untuk merawat diri sendiri.

Di tengah tekanan tersebut, perempuan Indonesia tetap memegang peran strategis dalam pengambilan keputusan keuangan keluarga. Sebanyak 62 persen responden mengaku menjadi pengambil keputusan terakhir dalam urusan finansial rumah tangga, bahkan meningkat hingga 92 persen pada perempuan yang berperan sebagai pencari nafkah utama.

Meski demikian, pemanfaatan layanan perencanaan keuangan profesional masih tergolong rendah. Hanya 13 persen perempuan yang saat ini aktif melibatkan penasihat keuangan dalam mengelola keuangan mereka.

Dari sisi kesiapan jangka panjang, meski 63 persen perempuan merasa kondisi finansial mereka lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya, hanya 19 persen yang merasa sangat siap menghadapi kejadian finansial besar yang tidak terduga.

Albertus menambahkan, penting bagi perempuan untuk mendapatkan akses terhadap perencanaan keuangan yang lebih relevan dan mudah dijangkau. Hal ini dinilai krusial agar perempuan dapat mengambil keputusan finansial secara lebih matang, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dalam jangka panjang.

Survei ini merupakan bagian dari riset Sun Life yang melibatkan 3.001 responden di enam pasar Asia pada Januari 2026, termasuk Indonesia, guna memahami perilaku, aspirasi, dan tantangan finansial perempuan dalam membangun keamanan ekonomi yang berkelanjutan. (Viz)