JURNALKALIAMANTAN.COM,KALTIM – Sektor pariwisata terus menunjukkan peran strategis sebagai penggerak ekonomi di Provinsi . Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 35 Tahun 2025 tentang Desa Wisata, Provinsi Kalimantan Timur mendorong pengembangan pariwisata yang terarah, berkelanjutan, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat desa.
Pertumbuhan sektor pariwisata Kalimantan Timur juga menunjukkan tren positif. Hal ini ditandai dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara, membaiknya tingkat hunian hotel, hingga terselenggaranya berbagai agenda berskala internasional.
Gubernur Kalimantan Timur mengatakan, Pergub Desa Wisata menjadi landasan penting untuk memperkuat program unggulan pemerintah daerah bersama Wakil Gubernur dalam Program Jaminan Sosial dan Pembangunan (Jospol).
“Pergub ini penting untuk memberikan arah, kriteria, dan standardisasi desa wisata agar tumbuh secara terencana, berkelanjutan, serta mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat desa,” ujar Gubernur yang akrab disapa Harum, didampingi Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ririn Sari Dewi, belum lama tadi.
Data pertumbuhan pariwisata daerah menunjukkan peningkatan signifikan. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat mencapai 10.437 kunjungan atau meningkat 113,26 persen dibandingkan tahun 2024. Sementara itu, wisatawan nusantara mencapai 16,05 juta perjalanan, naik 22,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk kunjungan wisatawan nusantara, menjadi destinasi utama dengan 4,23 juta perjalanan, disusul dan . Adapun wisatawan mancanegara didominasi oleh kunjungan dari kawasan ASEAN, dengan Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura sebagai tiga negara penyumbang terbesar.
Dampak positif sektor pariwisata juga tercermin pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel. Tingkat hunian hotel berbintang di Kalimantan Timur tercatat sempat melampaui 50 persen pada April 2025, meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
“Kondisi ini mencerminkan permintaan akomodasi yang membaik seiring meningkatnya kunjungan wisatawan,” jelasnya.
Selain itu, penyelenggaraan East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) 2025 turut memperkuat daya tarik pariwisata budaya Kalimantan Timur. Festival ini diikuti delegasi dari berbagai negara, seperti Korea Selatan, Polandia, Rusia, India, dan sejumlah negara lainnya.
“Event bertaraf internasional ini tidak hanya memperkaya agenda pariwisata budaya, tetapi juga menjadi sarana promosi seni dan tradisi lokal kepada wisatawan global,” tambahnya.
Saat ini, kabupaten dan kota di Kalimantan Timur terus mengembangkan potensi pariwisata daerah, baik berbasis bahari dan pesisir melalui konsep ekonomi biru, maupun pariwisata daratan seperti ekowisata dan budaya yang diarahkan sebagai fondasi ekonomi hijau Benua Etam di masa depan.
(Rls/Ang)














