Setelah ‘Ghosting’, Muncullah Istilah ‘Breadcrumbing’

Keterangan foto : ilustrasi depresi (pexels.com/RDNE Stock Project)

JURNALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Warganet pasti sudah familiar dengan istilah ‘ghosting’ yang kerap digunakan oleh generasi milenial dan Gen Z dalam percakapan sehari-hari.

Istilah yang erat dengan hubungan percintaan itu mengarah pada tindakan penghentian komunikasi atau perhatian dari pasangan atau orang terdekat secara tiba-tiba dan kemudian menghilang tanpa ada penjelasan.

[feed_them_social cpt_id=59908]

Sesuai dengan kata ‘ghost’ yang jadi akar dari kata ‘ghosting’, perilaku itu seperti hantu yang bisa muncul dan pergi dengan tiba-tiba.

Tak jarang, tindakan tersebut seringkali menimbulkan efek patah hati dan trauma pada korban, hingga waktu yang cukup lama.

Sekarang, istilah baru kembali digunakan untuk menamai tindakan yang sekilas mirip dengan ‘ghosting’ yang disebut ‘breadcrumbing’.

Menurut penjelasan dr. Haekal Anshari, seorang sexologist dan spesialis anti aging, ‘breadcrumbing’ yang diambil dari kata ‘breadcrumb’ atau remah-remah roti, merujuk pada tindakan pelaku yang menggantungkan komunikasi dan perhatian pada korban.

Kemudian secara tiba-tiba meninggalkan tanpa penjelasan dan kembali lagi dengan memberikan perhatian kecil.

Mulai dari memberikan komentar di unggahan media sosial korban, memberikan ‘like’, hingga reaksi di tiap unggahan atau bahkan kembali intens menghubungi.

Tindakan ini cenderung berulang hingga berimbas pada perasaan terluka, tertipu dan ketidakpastian hingga depresi bagi korbannya.

“Pelaku breadcrumbing sering menunjukkan ciri kepribadian narsistik, termasuk egosentrisme dan kebutuhan akan perhatian untuk meningkatkan harga diri mereka dan kecenderungan untuk mengeksploitasi orang lain,” tulis Haekal dalam unggahannya di akun Instagram @dr.haekalanshari.

(Viz)

[feed_them_social cpt_id=57496]