JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus mematangkan kesiapan operasional kawasan Tugu Nol Kilometer Banjarmasin, sebagai destinasi wisata terpadu sekaligus ruang publik baru di pusat kota.
Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin bersama Danrem 101/Antasari Brigjen TNI Ilham Yunus, Direktur Utama PT Bangun Banua Kalsel H. Afrizaldi, serta jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalsel meninjau langsung lokasi tersebut, Ahad (3/5).
Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan kawasan yang direncanakan dibuka untuk masyarakat pada tahun ini.
“Kita memantau dan mengontrol kawasan Tugu Nol Kilometer. Untuk naik ke tower nantinya menggunakan karcis. Di kawasan ini juga terdapat ruang pertunjukan berbentuk bulat serta spot yang bisa dimanfaatkan untuk kafe,” ujar Muhidin.
Ia menjelaskan, pengelolaan kawasan akan melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yakni PT Bangun Banua Kalsel. Saat ini, Pemprov Kalsel tengah menyusun draft kerja sama sebagai dasar pengelolaan.
“Bangun Banua akan mengelola kawasan ini. Kita siapkan dulu draft sistem kerja samanya, setelah itu baru kita buka bersama,” katanya.
Muhidin menambahkan, kawasan Tugu Nol Kilometer akan dilengkapi berbagai fasilitas, seperti panggung pertunjukan seni budaya dan hiburan, area santai, serta kafe. Akses di area bawah tetap gratis, sementara pengunjung yang ingin naik ke menara akan dikenakan tarif.
“Di bawah tidak membayar, tetapi untuk naik ke atas tugu akan dikenakan biaya. Ini bagian dari pengelolaan agar kawasan tetap terawat,” jelasnya.
Peresmian kawasan, lanjutnya, akan dilakukan setelah seluruh konsep pengelolaan dan kesiapan teknis dinyatakan siap.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bangun Banua Kalsel H. Afrizaldi menyatakan kesiapan pihaknya untuk mengelola kawasan tersebut sesuai arahan gubernur.
“Pada prinsipnya kami sudah mendapat arahan untuk menjadi pengelola kawasan Nol Kilometer. Hari ini kami bersama gubernur dan PUPR meninjau langsung kesiapan lokasi,” ujarnya.
Ia menyebut, pihaknya tengah menyiapkan konsep pengelolaan yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi, baik dari sektor pariwisata maupun pemberdayaan UMKM.
“Kawasan ini akan kita dorong menjadi destinasi yang memiliki nilai jual, tidak hanya sebagai tempat melihat menara, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi daerah,” katanya.
Berbagai potensi akan dikembangkan, termasuk ruang usaha bagi pelaku UMKM, area pertunjukan seni budaya, hiburan, hingga aktivitas kreatif masyarakat.
Meski secara konsep dinilai siap, Afrizaldi mengungkapkan masih terdapat sejumlah infrastruktur yang memerlukan pemeliharaan, terutama yang menjadi kewenangan Dinas PUPR Kalsel.
“Kita harus berkoordinasi dengan PUPR karena masih ada beberapa infrastruktur yang perlu pemeliharaan. Kesiapan ini yang menentukan kapan kawasan bisa dioperasikan,” jelasnya.
Selain itu, aspek keselamatan dan kenyamanan pengunjung menjadi perhatian utama, terutama pada fasilitas menara.
“Keselamatan pengunjung menjadi prioritas, termasuk pengaturan sirkulasi naik dan turun menara,” terangnya.
Sementara itu, data Dinas Koperasi dan UKM Kalsel menunjukkan ratusan ribu pelaku UMKM berpotensi dilibatkan dalam pengembangan kawasan berbasis ekonomi lokal.
Dengan konsep integrasi antara wisata, seni budaya, hiburan, dan ekonomi kreatif, Pemprov Kalsel optimistis kawasan Tugu Nol Kilometer akan menjadi pusat keramaian baru sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
“Kami yakin jika ini dibuka, kawasan ini akan menjadi pusat aktivitas masyarakat karena dilengkapi berbagai fasilitas hiburan dan pendukung lainnya,” pungkas Afrizaldi.
(Adv/Adpim)













