JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Rangkaian kegiatan Semesta Buku Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan ditutup dengan bedah buku bersama penulis best seller Brian Khrisna.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Perpustakaan Palnam, Kantor Dispersip Kalsel, Ahad (5/7/2026), disambut antusias ratusan peserta yang memadati lokasi acara.
Dalam kesempatan tersebut, Brian Khrisna membedah novel berjudul Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, sebuah karya yang mengangkat isu kesehatan mental melalui kisah Ale, seorang pria yang berniat mengakhiri hidup akibat depresi dan kesepian.
Namun sebelum melakukannya, Ale memutuskan menikmati semangkuk mie ayam, yang kemudian menjadi awal perjalanan menemukan kembali makna hidup.
Brian mengungkapkan, novel tersebut lahir dari hasil wawancara dengan tiga penyintas perundungan, termasuk salah satu teman semasa SMA. Dalam proses penulisannya, ia juga melibatkan psikolog dan psikiater agar isi cerita tetap akurat dan tidak sekadar berdasarkan sudut pandang pribadi.
“Saya melibatkan psikolog dan psikiater karena tidak ingin cerita ini hanya berisi opini pribadi. Awalnya naskah cukup tebal, tetapi mereka menyarankan agar dibuat lebih ringan sehingga lebih mudah dipahami pembaca,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah dialog dalam novel diambil dari pendekatan yang biasa dilakukan psikiater saat mendampingi pasien.
Menurut Brian, langkah sederhana seperti merapikan kamar, mandi, atau berjalan kaki merupakan bentuk perubahan lingkungan kecil yang sering dianjurkan tenaga profesional untuk membantu seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis.
“Hal-hal sederhana itu juga dilakukan Ale dalam cerita ini. Pesannya, ketika sedang terpuruk, mulailah dari perubahan kecil di sekitar diri sendiri,” katanya.
Brian menegaskan, novelnya bukan dimaksudkan sebagai pengganti terapi bagi mereka yang mengalami masalah kesehatan mental, namun dapat menjadi teman bagi pembaca yang merasa sendirian menghadapi kesedihan.
“Buku ini bukan obat, tetapi teman. Siapa pun boleh merasa sedih, bahkan untuk hal yang dianggap sepele. Yang terpenting, jangan merasa sendirian,” tuturnya.
Selain mengangkat isu kesehatan mental, novel tersebut juga mengajak pembaca untuk menjalani hidup dengan lebih perlahan agar mampu melihat berbagai hal secara lebih jernih.
Brian juga membagikan perjalanan kariernya sebagai penulis. Ia mengenang pada 2012 pernah menjadi peserta dalam sebuah acara bedah buku dan mengantre untuk mendapatkan tanda tangan penulis idolanya.
Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 2019, ia justru berdiri di panggung yang sama sebagai sesama penulis.
Ia mengaku sempat diragukan oleh orang tuanya ketika memilih menjadi penulis. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berkarya.
“Saya bukan lulusan sastra, bahkan dulu tidak terlalu menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Siapa pun bisa menjadi penulis selama memiliki kemauan, terus belajar, dan konsisten,” ungkapnya.
Diletahui buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan Melayu, memasuki cetakan ke-100, serta diadaptasi ke layar lebar.
Kegiatan yang menjadi penutup Semesta Buku 2026 tersebut turut dihadiri Kepala Dispersip Kalimantan Selatan Sri Mawarni yang diwakili Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan Perpustakaan Dispersip Kalsel, Adethia Hailena, beserta jajaran.
Semesta Buku 2026 merupakan agenda literasi yang digelar Dispersip Kalimantan Selatan bersama Bank Indonesia Kalsel, Garamedia, Bank Kalsel dan lainya, untuk meningkatkan minat baca sekaligus memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat.
(Adv/Ih)













