JURNALKALIMANTAN.COM, BANJAR – Tangkitan Pusaka Banua Kalimantan kembali menggelar Aruh Wasi ke-10 dengan mengusung tema “Silaturrahmi Rakat Bedangsanakan”. Kegiatan yang menjadi agenda rutin tersebut berlangsung khidmat di Rumah Mahli Ateng, Martapura, Senin (24/8/2026) malam, bertepatan dengan momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Ketua Tangkitan Pusaka Banua Kalimantan Amrullah mengatakan, Aruh Wasi merupakan salah satu bentuk komitmen organisasi dalam menjaga dan melestarikan adat serta Pusaka Adat Banjar.
“Melalui Aruh Wasi ini, kami ingin terus mempererat silaturahmi dan persaudaraan masyarakat Banjar. Kegiatan ini juga menjadi upaya untuk mengenalkan serta melestarikan adat dan Pusaka Adat Banjar agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Amrullah.
Menurutnya, Aruh Wasi tidak sekadar menjadi wadah berkumpul dan mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai adat dan budaya Banjar.
Suasana kekeluargaan terlihat sepanjang kegiatan. Masyarakat yang hadir mengikuti rangkaian acara dengan penuh penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan keagamaan.
Tema “Silaturrahmi Rakat Bedangsanakan” menegaskan pentingnya menjaga hubungan antarsesama, terutama dalam kehidupan masyarakat Banjar yang menjunjung tinggi semangat kekeluargaan dan kebersamaan.
Silaturahmi juga dinilai menjadi sarana untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menjaga hubungan baik antargenerasi, sehingga nilai-nilai budaya yang diwariskan para pendahulu tetap dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Berlangsung bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Aruh Wasi ke-10 turut menghadirkan nuansa religius. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mengenang keteladanan Rasulullah sekaligus memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap adat serta warisan budaya Banjar.
Melalui kegiatan tersebut, Tangkitan Pusaka Banua Kalimantan menegaskan komitmennya untuk terus menjaga, melestarikan, dan mengenalkan adat serta Pusaka Adat Banjar kepada generasi muda.
Aruh Wasi diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, merawat warisan budaya, serta menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap adat dan tradisi Banjar di tengah perkembangan zaman.
(Dyt/Ang)













