Akuntan Diminta Membarui Pengetahuan dan Memiliki Sertifikasi untuk Bisa Bertahan di Era Disrupsi

Ikatan Akuntan
Foto bersama Pengurus IAI wilayah Kalsel bersama Dosen Prodi Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM

Diungkapkannya bahwasanya tahapan revolusi industri dari masa ke masa mengalami perkembangan sangat pesat hingga merubah pola perilaku ekonomi di dunia saat ini. Karena dengan kecanggihan digital, telah merubah interaksi dan transaksi yang mengancam profesi akuntan.

[feed_them_social cpt_id=59908]

“Namun, terdapat peluang pula bagi profesi akuntan, hal ini yang harus diikuti oleh kurikulum dari program pendidikan profesi akuntansi di masa sekarang,” urai Prof. Nunuy

Ia menambahkan, peluang dan kesempatan akuntan di masa sekarang, tidaklah perlu menjadi seorang analis sistem komputer atau mengimplementasikan perhitungan matematis, melainkan seorang akuntan perlu melengkapi diri dengan kompetensi analisis data bekerja sama dengan kecerdasan buatan, sehingga akuntan dapat menjadi katalis antara pihak ahli teknologi dengan pimpinan perusahaan.

Prof. Nunui menyampaikan pula untuk akuntan publik/kantor jasa akuntan dan perusahaan harus menilai dan memprioritaskan berbagai tugas-tugas yang dapat diotomatisasi, mengindentifikasi area-area tugas fisik yang dapat dikurangi dan digantikan dengan teknologi, meningkatkan keahlian analisis data dan literasi teknologi, mengembangkan cara baru untuk melakukan analisis dan juga presentasi data, serta memanfaatkan teknologi.

Sementara itu bagi praktisi akuntansi, ditekankannya untuk mengembangkan kerangka berpikir analisis data, keahlian analitikal dan komunikasi di era digital, keahlian berpikir kritis, manajemen strategis, manajemen risiko, fokus kepada inovasi dan manajemen perubahan, serta mempertimbangkan untuk memperoleh sertifikasi profesi.

Sedangkan bagi pendidikan akuntasi, Prof. Nunuy mendorong untuk menyesuaikan dengan pengembangan keahlian dan pengetahuan terkini, bisnis terbaru, peningkatan keahlian berbasis teknologi, etika, hingga mendukung pengembangan interpersonal dan keterampilan berkomunikasi.

“Apakah kurikulum saya telah mendukung penciptaan dari higher-order learning skills? (keterampilan pembelajaran yang detail dan komprehensif, red) Apakah kurikulum saya sudah dirancang untuk dapat memberikan pengetahuan dan keahlian yang terintegrasi? Apakah model bisnis dan juga mata kuliah di prodi saya telah menyesuaikan dengan perubahan yang ada pada profesi akuntansi?” tanya Prof. Nunuy kepada para tenaga pendidik akuntansi, agar mengembangkan pengajarannya.

Kegiatan yang sekaligus penyelenggaraan program pendidikan lanjutan (PPL) ini, diikuti 314 peserta dari seluruh Indonesia, yang juga merupakan rangkaian dari pelantikan pengurus IAI Wilayah Kalsel.

Editor : Ahmad MT

[feed_them_social cpt_id=57496]