Jenazah Korban KM Virgo Sulit Dikenali, Pemeriksaan DNA Jadi Langkah Berikutnya

Evakuasi jasad korban KM Virgo 8 ke RS Bhayangkara, Senin (21/9). (Foto: Tius)

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Proses identifikasi jenazah korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 masih menghadapi sejumlah kendala. Kondisi jenazah yang ditemukan setelah beberapa hari di laut membuat Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan harus mengandalkan pemeriksaan DNA untuk sejumlah jenazah yang sulit dikenali melalui metode identifikasi lainnya.

Kabid Dokkes Polda Kalsel, Kombes Pol dr. Much Sofwan mengatakan, kondisi jenazah yang ditemukan lima hingga 10 hari setelah kejadian membuat proses pemeriksaan forensik menjadi lebih kompleks.

Menurutnya, pemeriksaan melalui kedokteran forensik, odontologi forensik, sidik jari, Inafis, hingga pencocokan data antemortem dan postmortem tidak selalu menghasilkan data yang dapat digunakan untuk memastikan identitas korban.

“Kalau dari pemeriksaan kedokteran forensik, odontologi, Inafis, maupun data antemortem dan postmortem belum mendapatkan hasil yang valid, maka kita harus melakukan pemeriksaan penunjang berupa DNA,” ujar Much Sofwan di RS Bhayangkara Banjarmasin, Senin (21/9/2026).

Untuk pemeriksaan DNA, sampel dari jenazah akan dicocokkan dengan sampel DNA keluarga terdekat. Seluruh sampel tersebut selanjutnya dikirim ke laboratorium DVI di Jakarta.

Much Sofwan menjelaskan, proses pemeriksaan DNA diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Namun, waktu tersebut dapat lebih singkat, yakni sekitar satu pekan, apabila antrean pemeriksaan di laboratorium tidak terlalu padat.

“Pengambilan sampel DNA baik dari jenazah maupun keluarga antemortem yang paling dekat akan kami kirim ke Jakarta. Kalau antrean tidak padat, bisa sekitar satu minggu,” jelasnya.

DVI memastikan sampel jenazah yang telah siap akan langsung dikirim ke Jakarta. Pengiriman tidak perlu menunggu seluruh jenazah yang masih dalam proses identifikasi.

Sementara itu, tim DVI sejauh ini telah menghimpun sekitar 135 data antemortem dari keluarga korban. Data tersebut diperoleh melalui koordinasi antara Polda Kalsel, Polda Jawa Timur, dan Polda Jawa Barat.

Namun, data yang terkumpul masih harus melalui proses validasi. Salah satu kendalanya adalah adanya laporan ganda dari keluarga korban yang melakukan pelaporan di lokasi berbeda.

DVI juga meminta keluarga korban terus memberikan informasi dan data secara lengkap. Data tersebut diperlukan untuk membantu proses pencocokan dengan identitas jenazah yang ditemukan tim SAR.

Di tengah proses identifikasi yang masih berlangsung, Polda Kalsel juga menyiapkan fasilitas untuk mengantisipasi apabila sejumlah jenazah kembali tiba dalam waktu bersamaan.

RS Bhayangkara Banjarmasin kini menyiagakan dua unit freezer jenazah. Fasilitas tersebut digunakan untuk menjaga kondisi jenazah selama proses pemeriksaan, termasuk saat menunggu hasil uji DNA dari laboratorium di Jakarta.

Much Sofwan meminta keluarga korban bersabar selama proses identifikasi berlangsung. Ia memastikan tim DVI dari Polda Kalsel, Polda Jawa Timur, Polda Jawa Barat, bersama Pusident Bareskrim Polri masih terus melakukan pemeriksaan dan pencocokan data.

“Kami mohon kesabaran dari pihak keluarga korban. Seluruh tim DVI terus bekerja keras dan maksimal,” pungkasnya.

(Tius/Ang)