Survei: Layanan Teknologi Paling Dipercaya Justru Paling Cepat Ditinggalkan Saat Bermasalah

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Kepercayaan konsumen terhadap layanan teknologi di Asia Tenggara ternyata bersifat “rapuh”. Meski sejumlah layanan dinilai sangat dipercaya, pengguna tidak ragu untuk langsung meninggalkannya saat terjadi gangguan atau kebocoran data.

Temuan ini terungkap dalam studi Southeast Asia Consumer Tech Trust Score yang dirilis Vero bersama Kadence International. Survei tersebut melibatkan 3.000 responden dari enam negara, termasuk Indonesia.

Hasilnya menunjukkan layanan perbankan dan pembayaran digital menjadi kategori dengan tingkat kepercayaan tertinggi, masing-masing mencatat skor 81,7 dan 80,4. Namun di sisi lain, lebih dari setengah responden mengaku siap meninggalkan layanan tersebut jika terjadi insiden.

“Ketika teknologi menangani data pribadi dan keuangan, ekspektasi konsumen menjadi sangat tinggi. Kepercayaan harus dijaga tanpa kompromi,” ujar Strategist Vero Indonesia, Fuad Arrasyid.

Sebaliknya, teknologi seperti media sosial dan generative AI justru mencatat tingkat kepercayaan paling rendah, meskipun penggunaannya sangat tinggi di kehidupan sehari-hari.

Studi ini juga menyoroti kekhawatiran utama konsumen, di mana 49,5 persen responden menyebut penyalahgunaan data pribadi sebagai risiko terbesar. Bahkan, 42 persen responden menyatakan akan langsung berhenti menggunakan layanan jika terjadi insiden serius.

Di Indonesia sendiri, mayoritas responden cenderung masih memberi kesempatan kedua dengan menghentikan penggunaan sementara hingga masalah diselesaikan. Namun untuk layanan keuangan digital, tingkat sensitivitas tetap tinggi, terutama jika berkaitan dengan penipuan atau kebocoran data.

“Di era digital, kebocoran data bukan lagi sekadar masalah teknis, tetapi menjadi ujian kepercayaan bagi perusahaan,” kata Executive Account Director Vero Indonesia, Diah Andrini Dewi.

Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa tingkat penggunaan tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan. Media sosial, misalnya, digunakan oleh 79 persen responden, tetapi memiliki skor kepercayaan relatif rendah, yakni 67,8.

Sementara itu, faktor utama yang membuat konsumen percaya terhadap layanan teknologi meliputi kepatuhan terhadap regulasi, rekam jejak perusahaan, serta transparansi dalam penggunaan data.

“Perusahaan tidak cukup hanya menghadirkan inovasi. Mereka juga harus mampu menunjukkan akuntabilitas dan transparansi agar kepercayaan konsumen tetap terjaga,” ujar Managing Partner Vero Advocacy, Pongsiri Poorintanachote.

Temuan ini menegaskan bahwa di tengah pesatnya transformasi digital, kepercayaan menjadi faktor kunci yang menentukan keberlanjutan layanan teknologi di masa depan. (Viz)