JURNALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menegaskan jawaban Meta AI bukan bukti bahwa Komdigi meminta pemblokiran konten demonstrasi dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Polemik ini mencuat setelah Meta AI menyebut pembatasan konten dilakukan atas permintaan Komdigi. Menurut Ismail, jawaban chatbot bukan pernyataan resmi perusahaan dan tidak didasarkan pada akses ke data moderasi internal Meta.
“Mekanisme pemblokiran atas permintaan pemerintah itu memang ada, dan Meta sendiri menjelaskannya di laman transparansi mereka. Jadi itu bukan karangan AI,” ujar Ismail dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (23/10/2026), dikutip dari InfoPublik.id.
Namun, ia menegaskan klaim bahwa sebagian besar pemblokiran dilakukan atas permintaan Komdigi tidak dapat dibuktikan hanya melalui jawaban chatbot. Ia menyarankan masyarakat merujuk pada data dan penelitian, termasuk riset SAFEnet dan Remotivi.
Ismail juga meminta publik membedakan pemblokiran dengan penurunan jangkauan. Konten yang diblokir tidak dapat diakses, sedangkan konten dengan jangkauan rendah masih tersedia, tetapi lebih jarang muncul di hadapan pengguna.
“Untuk karhutla, posisinya memang masih klaim lawan klaim. Komdigi membantah, sementara Meta belum memberikan konfirmasi resmi,” katanya.
Menurut Ismail, jangkauan konten juga dapat dipengaruhi kebijakan rekomendasi platform. Instagram dan Threads, misalnya, membatasi rekomendasi konten politik secara default. Akibatnya, unggahan tentang demonstrasi atau kebijakan publik bisa memiliki jangkauan rendah tanpa harus diblokir.
Ia menilai transparansi algoritma platform masih terbatas. Di sisi lain, dasar hukum tindakan pemerintah dalam membatasi konten juga perlu disampaikan secara terbuka.
Untuk memeriksa penyebab unggahan hilang atau mengalami penurunan jangkauan, Ismail menyarankan kreator memeriksa label pembatasan berdasarkan permintaan hukum, fitur Account Status di Instagram, serta kemungkinan pengaruh topik politik terhadap rekomendasi konten.
“Penyebabnya berbeda-beda, jadi cara menanganinya juga berbeda. Dan yang paling penting, jangan langsung menelan jawaban chatbot sebagai kebenaran,” pungkasnya. (YUN/Viz)













