Pemkab HST Komitmen Optimalkan Peran Desa untuk Pencegahan Karhutla

Pemkab HST Komitmen Optimalkan Peran Desa untuk Pencegahan Karhutla. (Foto:Ist)

JURNALKALIMANTAN.COM, HULU SUNGAI TENGAH – Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan diperkuat melalui optimalisasi peran lurah dan kepala desa. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan masyarakat, mempercepat deteksi dini titik api, serta mengurangi risiko kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas warga.

Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan Optimalisasi Peran Lurah dan Kepala Desa dalam Penanggulangan Karhutla di Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan yang dilaksanakan secara berani melalui Zoom Meeting di Aula Bhayangkara Polres Hulu Sungai Tengah (HST), Kamis (15/10/2026).

Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat dalam mencegah serta menangani karhutla. Menurutnya, upaya penanggulangan tidak hanya mengandalkan pemadaman saja, tetapi harus dimulai dari pencegahan dan koordinasi sejak tingkat desa.

Penanganan karhutla yang telah berlangsung lebih dari dua bulan menghadapi sejumlah kendala, seperti luasnya kawasan gambut, keterbatasan sumber air, sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, serta kelelahan petugas di lapangan.

Berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, musim kemarau diperkirakan berlanjut hingga minggu ketiga November 2026. Kondisi ini membuat kewaspadaan masyarakat, terutama di kawasan rawan kebakaran, perlu terus ditingkatkan.

Sejumlah upaya penanganan juga dikembangkan, di antaranya penggunaan kolam bioflok bongkar-pasang untuk mendekatkan pasokan udara ke lokasi kebakaran serta sumur untuk membantu menyuntikkan api di lapisan tanah gambut.

Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, dalam Arahnya mengingatkan bahwa kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar dapat memicu kebakaran yang meluas dan berdampak pada kehidupan masyarakat.

“Karhutla merupakan persoalan serius yang harus kita tangani bersama. Kita tidak ingin kejadian seperti tahun-tahun sebelumnya kembali terulang hingga menimbulkan kabut asap dan mengganggu aktivitas masyarakat,” ucapnya.

Ia berharap lurah dan kepala desa dapat meningkatkan sosialisasi kepada warga, memperkuat koordinasi dengan RT dan RW, serta segera melaporkan kebakaran agar potensi penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Menurut Muhidin, penanganan kebakaran di lahan gambut juga harus disesuaikan dengan kondisi wilayah. Sebagian kawasan memerlukan penyuntikan udara ke dalam tanah, sedangkan kawasan lainnya memerlukan pembasahan pada permukaan tanah agar api tidak kembali menyala.
Pemerintah juga merencanakan langkah-langkah strategi berupa pembangunan terusan atau takungan air untuk mempermudah pasokan udara bagi petugas pemadam kebakaran dan mendukung operasi helikopter water bombing.

“Seluruh masyarakat kami harap ikut menjaga lingkungan dan menghentikan pembakaran lahan. Upaya pemadaman membutuhkan tenaga, waktu, dan pengorbanan yang besar. Oleh karena itu, pencegahan sejak awal sangat penting untuk keselamatan bersama,” harapnya.

Melalui penguatan peran pemerintah desa dan keterlibatan aktif masyarakat, pencegahan karhutla diharapkan semakin efektif. Kesadaran untuk tidak membakar lahan, melaporkan munculnya titik api, serta menjaga sumber air dan lingkungan menjadi langkah penting untuk menekan risiko kebakaran, melindungi kesehatan warga, dan menjaga kelestarian lingkungan di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, Wabup HST Gusti Rosyadi Elmi berkomitmen pemerintah daerah akan terus bersinergi dengan semua pihak untuk pencegahan dan penanganan Karhutla.

“Kami berkomitmen berperan aktif dan melibatkan masyarakat dalam pencegahan Karhutla,” tutup Wabup. (Adv/Rz)