JURNALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Pengadaan barang dan jasa yang responsif gender atau gender-responsive procurement (GRP) dinilai dapat memperluas peluang ekonomi perempuan melalui akses pasar, pengembangan usaha, dan peningkatan kesejahteraan pekerja.
Laporan Asian Development Bank dan UN Women berjudul Gender-Responsive Procurement in Asia and the Pacific: An Opportunity for an Equitable Future menyebut akses pembiayaan, pelatihan bisnis, dan jangkauan pasar masih menjadi tantangan perempuan dalam mengembangkan usaha.
Di Indonesia, pendekatan ini juga berpotensi memperkuat sektor care economy atau ekonomi perawatan, yang mencakup pengasuhan anak, perawatan lansia, dan pendampingan penyandang disabilitas.
Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama International Labour Organization (ILO) telah menyusun Peta Jalan Ekonomi Perawatan 2026. Salah satu fokusnya adalah pengakuan, perlindungan, dan jaminan sosial bagi pekerja perawatan.
Head of Programmes UN Women Indonesia, Dwi Yuliawati, mengatakan GRP dapat membuka akses pasar lebih luas bagi usaha milik perempuan sekaligus mendorong praktik bisnis inklusif.
Penerapan prinsip pemberdayaan perempuan juga terlihat dalam Women’s Empowerment Principles (WEPs) Awards 2026 Indonesia. Tahun ini, sebanyak 18 pemenang dipilih dari 142 aplikasi yang diajukan 94 perusahaan. Partisipasi tersebut menjadi yang tertinggi sejak penghargaan dimulai pada 2020.
Salah satu pemenangnya adalah L’Oréal Indonesia dalam kategori Inclusive Procurement. Melalui Inclusive Sourcing Programme, perusahaan tersebut membuka peluang ekonomi bagi perempuan, lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan. Hingga 2025, program ini telah membantu menyediakan lebih dari 1.600 kesempatan kerja penuh waktu.
Sementara itu, Komodo Water meraih kategori Special Mention – SME Champion berkat inisiatif penyediaan air bersih dan air minum terjangkau bagi masyarakat terpencil di kawasan Taman Nasional Komodo dan Kabupaten Manggarai Barat sejak 2012. Akses air tersebut membantu perempuan dan anak-anak menghemat waktu yang sebelumnya digunakan untuk mencari air.
Adapun AKAR Family meraih posisi Second Runner-up kategori Gender-Inclusive Workplace. Organisasi ini mengembangkan jalur karier bagi tenaga pendidik dan pengasuh anak melalui peningkatan keterampilan serta evaluasi kinerja.
CEO AKAR Family, Yasmina Hasni, menilai lingkungan kerja ramah keluarga dapat membantu perempuan, khususnya ibu, tetap bekerja tanpa mengabaikan tanggung jawab pengasuhan.
Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi pemerintah dan sektor bisnis dalam memperluas akses ekonomi perempuan. Dukungan terhadap usaha milik perempuan, rantai pasok inklusif, serta lingkungan kerja ramah keluarga menjadi bagian penting dalam mendorong kesetaraan gender. (Viz)













