Kongres Borneo Raya Akan Libatkan 3 Negara

Kongres Borneo Raya
Ketua FIDN Kalsel Bujino A. Salan

Rencananya, kongres tersebut akan dilaksanakan 11 hari pada Maret nanti, dengan tempat dan lokasi yang berbeda-beda, seperti Desa Tumbang Anoi (Kalteng), Banjarmasin (Kalsel), dan Penajam (Kaltim).

“Kalau di Tumbang Anoi, acaranya napak tilas tentang sejarah Kalimantan. Selanjutnya di Banjarmasin akan diadakan seminar serentak se-Kalimantan, dan ini bisa dilaksanakan di tempat masing-masing untuk menampung keinginan orang-orang Kalimantan,” jelasnya.

“Setelah itu, akan dilanjutkan festival budaya. Bukan hanya Budaya Dayak saja, namun semua budaya etnis yang ada di Kalimantan,” sambungnya.

Kemudian setelah itu, acara puncaknya akan dilakukan ritual adat pembersihan di Penajam.

Sementara itu, Juru Bicara Kongres Borneo Raya sekaligus Ketua Madaliun Banua Kalsel Sri Naida, S.Si., M.P.A. menambahkan, pada rapat kedua ini lebih progresif, lantaran dihadiri H. M. Ali mantan Damang (Kepala Adat Suku Dayak) dari Sampit (Kalteng) yang menceritakan jejak sejarah Tumbang Anoi

“Ternyata sejarah Tumbang Anoi ini menjadi tempat wilayah lain untuk melakukan perjanjian di Kalimantan, termasuk Sabah dan Brunei pun datang ke situ, lalu ini menjadi titik tolak kita bergerak,” katanya.

Di samping itu, lanjut Sri Naida, pihaknya memastikan IKN di Penajam bukan wilayah kolonial, sehingga diharapkan menjadi aura baru, semangat baru, dan komitmen baru.

“Jadi, kita akan menguatkan dengan ritual adat, membersihkan dari kesumpekan kita selama 76 tahun berbangsa dan bernegara,” tuturnya.

Dikatakannya, kepanitiaan ini akan melibatkan 5 provinsi dan 3 negara termasuk Brunei dan Malaysia, sehingga akan dijadikan tingkat internasional.

“Jadi, eskalasinya naik, karena mereka punya kepentingan juga apabila Ibu Kota Negara ini jadi di wilayah kita. Urutannya adalah tentang perjanjian Tumbang Anoi dan mandat kita terhadap IKN itu sendiri,” tandasnya.

Menanggapi hal tersebut, H. M. Ali turut menyambut positif, terlebih sebagai tuan rumah IKN, sehingga diharapkan dapat memberi kontribusi untuk Ibu Kota Negara baru.

“Kita adalah kita, jangan orang tidak memandang kita karena Kalimantan ini tuan rumah,” katanya.

Untuk itu, ia mengajak semua pihak terkait agar memikirkan apa yang menjadi tantangan ke depan.

“Intinya orang-orang Kalimantan harus bisa mengisi dan berbuat untuk Bangsa ini,” tegasnya.

(Saprian)