JURNALKALIMANTAN.COM, BANJAR – Harga batu bara yang tengah anjlok di pasar internasional dinilai bukan semata tantangan, melainkan peluang bagi generasi muda. Direktur Utama PT Baramarta (Perseroda) Saidan Pahmi, mendorong generasi Z untuk berani masuk ke industri ini, asalkan memiliki akses dan komitmen yang kuat.
Produksi batu bara PT Baramarta pada 2025 ditargetkan mencapai 750.000 ton sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya. Namun, banyak kontraktor memperlambat produksi karena harga batu bara merosot akibat minimnya permintaan, terutama dari Tiongkok.
“Faktor utama batu bara menjadi murah karena permintaan yang sepi. Contohnya, volume permintaan dari Cina ke Kabupaten Banjar saat ini sedang lesu,” ujar Saidan, Kamis (25/9/2025).
Meski demikian, ia menilai kondisi ini bisa menjadi kesempatan bagi pelaku usaha baru, termasuk Gen Z, untuk masuk sebagai distributor. Syaratnya, mereka harus memiliki akses yang kuat, mulai dari jalur distribusi, relasi, hingga pemahaman mendalam tentang pasar.
“Banyak pemuda di Kabupaten Banjar yang telah masuk ke dunia bisnis batu bara, namun mereka memiliki akses seperti relasi yang luas sebelum memulai,” tambahnya.
Selain akses, Saidan menekankan pentingnya orientasi atau komitmen penuh agar bisa fokus menghadapi tantangan besar di industri batu bara.
“Bahkan, dengan akses yang kuat, pelaku usaha muda bisa memulai bisnis tanpa modal. Seperti pebisnis batu bara muda memiliki relasi pengusaha alat berat. Dengan akses yang sudah cukup, dia dapat meminjam terlebih dahulu alat berat dari relasinya dan menciptakan hubungan simbiosis mutualisme. Dari sana sebenarnya terlihat, semua bisnis memiliki peluang yang sama, namun dengan jalan yang berbeda-beda,” pungkas Saidan.
(Ayr/Ahmad M)














