‎Perkuat Ketahanan Pangan, Komisi II Dorong Pengembangan Peternakan Sapi

Sekretaris komisi II DPRD Kalsel H Jahrian saat pimpin kunjungan kerja ke Tabalong (foto hmsdprdkalsel)

JURNALKALIMANTAN.COM, TABALONG – Komisi II DPRD Kalsel mendorong pengembangan integrasi perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

Hal itu disampaikan Komisi II saat kunjungan kerja ke PT Astra Agro Lestari (AAL) Tbk, Jumat kemarin (11/9/2026). Kunjungan dipimpin Sekretaris Komisi II H. Jahrian bersama sejumlah anggota.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan memonitor dan berdiskusi dengan pihak PT AAL serta Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kalsel terkait potensi pengembangan peternakan sapi di kawasan perkebunan sawit.

PT AAL menyampaikan, sebaran ternak sapi di kawasan perkebunan saat ini mencapai sekitar 2.500 hektare. Sementara berdasarkan data Disbunak Kabupaten Tabalong, populasi sapi di daerah tersebut sekitar 3.600 ekor.

Jumlah itu masih berpotensi ditingkatkan. Pasalnya, kebutuhan daging sapi di Tabalong diperkirakan lebih dari 4.000 ekor per tahun.

Disbunak Kalsel mendorong integrasi sawit dan sapi sebagai bagian dari pengembangan peternakan berkelanjutan. Pemerintah daerah juga akan melakukan pembinaan kepada peternak dan menyinergikannya dengan program PT AAL.

Administratur PT AAL Pandu Setiawan mengatakan, integrasi sawit dan sapi dapat mendukung pengelolaan perkebunan berkelanjutan.

“Penerapan kandang elektrik akan membuat pengelolaan lebih efektif dan efisien,” ujarnya.

Pandu mengatakan perusahaan akan berkoordinasi dengan manajemen pusat untuk menyiapkan sistem pengelolaan peternakan sapi yang lebih terintegrasi di kawasan perkebunan.

Anggota Komisi II DPRD Kalsel Firman Yusi mendorong PT AAL segera menyiapkan sistem pengelolaan ternak yang lebih terintegrasi, khususnya di kawasan perkebunan perusahaan.

Menurutnya, sistem tersebut diperlukan agar pengelolaan ternak masyarakat lebih terarah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

Komisi II menegaskan pengembangan integrasi sawit dan sapi harus memperhatikan keberlanjutan serta kesiapan fasilitas dan infrastruktur pendukung.

“Kami ingin memastikan persoalan di lapangan dapat diselesaikan sesuai ketentuan,” katanya.

Ia juga meminta keberadaan sapi di kawasan perkebunan diatur dan ditempatkan di lokasi khusus agar tidak mengganggu aktivitas perkebunan.

Disbunak Kalsel menilai integrasi sawit dan sapi juga mendukung penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Pola tersebut dinilai dapat mengoptimalkan sumber daya di kawasan perkebunan sekaligus mendukung pengelolaan yang lebih berkelanjutan.

“Integrasi sapi mendukung aspek keberlanjutan dalam penerapan ISPO,” ujar perwakilan Disbunak Kalsel.

Komisi II berharap hasil kunjungan tersebut ditindaklanjuti melalui program konkret antara pemerintah daerah, PT AAL, dan masyarakat. Sinergi itu diharapkan mampu meningkatkan populasi ternak, memperkuat ketahanan pangan, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Tabalong dan Kalsel. (YUN/Achmad MT)