JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Intrusi air laut di tengah puncak musim kemarau membuat kadar garam pada air baku PT Air Minum Bandarmasih mencapai 2.119 parts per million (PPM), Senin (10/8/2026).
Kondisi tersebut membuat PT Air Minum Bandarmasih menghentikan sementara operasional Intake Sungai Bilu. Penghentian ini berdampak terhadap penurunan debit distribusi air kepada pelanggan di sejumlah wilayah Kota Banjarmasin.
Manajemen PT Air Minum Bandarmasih kini menyiapkan sejumlah langkah alternatif untuk menjaga keberlangsungan pelayanan kepada masyarakat. Salah satu opsi yang diusulkan yakni pemanfaatan air dengan kadar garam di atas standar untuk kebutuhan tertentu, khususnya mandi, cuci, kakus (MCK), dengan tetap memperhatikan ketentuan dan aspek keamanan yang berlaku.
Direktur Utama PT Air Minum Bandarmasih, Zulbadi, mengatakan kondisi air baku saat ini menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Menurutnya, diperlukan langkah cepat dan terukur agar pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan.
“Saat ini kami terus mencari solusi terbaik agar pelayanan kepada masyarakat tetap bisa berjalan di tengah keterbatasan air baku. Salah satu yang sedang kami usulkan adalah pemanfaatan air untuk kebutuhan MCK, tentunya dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku,” ujar Zulbadi.
Distribusi Air Sejumlah Wilayah Turun Penghentian sementara Intake Sungai Bilu berdampak terhadap distribusi air di sejumlah kawasan.
Di wilayah Banjarmasin Barat, debit distribusi mengalami penurunan sekitar 40 persen. Sementara distribusi melalui Booster S. Parman turun sekitar 39 persen.
Penurunan distribusi juga terjadi di Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Timur, masing-masing sekitar 8 persen, serta sebagian wilayah Banjarmasin Utara.
Direktur Operasional PT Air Minum Bandarmasih, Irwan Firwana, mengatakan pihaknya terus mengoptimalkan sumber air yang masih tersedia.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah meningkatkan transfer air dari IPA 2 Pramuka ke IPA 1 dengan kapasitas sekitar 1.000 meter kubik per jam.
Dengan skema tersebut, debit pelayanan IPA 1 masih dapat dimaksimalkan hingga sekitar 1.750 meter kubik per jam.
“Kalau kondisi Sungai Bilu belum memungkinkan beroperasi, kami juga menyiapkan armada mobil tangki untuk membantu distribusi kepada pelanggan,” jelas Irwan.
Pelanggan Diminta Bijak Gunakan Air Manajemen PT Air Minum Bandarmasih menegaskan, penyesuaian distribusi dilakukan akibat keterbatasan air baku yang dipengaruhi kondisi kemarau dan intrusi air laut.
Pola distribusi akan terus disesuaikan dengan mempertimbangkan ketersediaan air baku serta kebutuhan pelayanan di masing-masing wilayah. Apabila kondisi air baku kembali membaik dan Intake Sungai Bilu dapat beroperasi normal, PT Air Minum Bandarmasih akan kembali menyesuaikan pola distribusi sesuai kebutuhan masyarakat.
Manajemen juga mengimbau pelanggan agar menggunakan air secara bijak dan mulai menampung air di rumah sebagai langkah antisipasi selama kondisi air baku masih terbatas.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas kondisi saat ini. Kami tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memaksimalkan pengolahan dan distribusi air kepada pelanggan,” tutup Zulbadi.
(JUN’D)













