Krisis Biokultural Ancam Indonesia, Pengetahuan Lokal Berisiko Hilang

Ilustrasi kehidupan masyarakat adat (pexels.com)

JURNALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Indonesia menghadapi ancaman krisis biokultural yang berpotensi menghilangkan pengetahuan lokal dalam menjaga alam, seiring dengan punahnya bahasa dan praktik budaya masyarakat adat.

Working Group ICCAs Indonesia (WGII) menyatakan, hilangnya satu bahasa lokal tidak hanya menghapus kosakata, tetapi juga pengetahuan tradisional seperti sistem pertanian, tanaman obat, hingga ritual yang mengatur relasi manusia dengan alam.

Koordinator Eksekutif WGII, Cindy Julianty, mengatakan ancaman tersebut lebih luas dibandingkan sekadar kehilangan keanekaragaman hayati.

“Yang terancam hilang bukan hanya spesies atau hutan, tetapi seluruh relasi antara manusia, alam, bahasa, dan praktik budaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara megabiodiversitas, tetapi juga megabiokultural yang memiliki keterkaitan erat antara ekosistem dan budaya.

Menurut Cindy, hilangnya keterhubungan manusia dengan alam dapat mendorong perubahan cara pandang, di mana alam hanya dianggap sebagai objek pemenuhan kebutuhan.

“Jika alam dipandang hanya sebagai sumber daya, eksploitasi dan kerusakan akan dianggap wajar,” katanya.

WGII mencontohkan keberagaman padi lokal di komunitas adat sebagai bagian dari relasi tersebut. Setiap jenis padi memiliki fungsi berbeda, termasuk untuk kebutuhan ritual.

Cindy menegaskan, hilangnya padi lokal akan berdampak pada hilangnya ritual dan perubahan cara masyarakat memandang alam.

“Ketika praktik budaya hilang, relasi manusia dengan alam ikut terputus,” ujarnya. (Viz)