Banjar  

Bertemu Fahruddin Faiz, Ali Syahbana Perkuat Gerakan Literasi Pemuda Banua

Tokoh muda Kabupaten Banjar, M Ali Syahbana (kanan) berbincang langsung dengan filsuf Fahruddin Faiz, usai peluncuran buku Filsafat Perdamaian di Warung Sastra, Yogyakarta, Kamis (25/6/26). (Foto: Ist)

JURNALKALIMANTAN.COM, YOGYAKARTA – Upaya membangun generasi muda yang berpikir kritis dan berkarakter, dinilai tidak cukup hanya melalui pendidikan formal. Budaya membaca, penguatan karakter, dan peningkatan kesadaran diri, menjadi fondasi penting dalam mencetak sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan zaman.

Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan tokoh muda Kabupaten Banjar, M Ali Syahbana, dengan filsuf sekaligus cendekiawan Islam Fahruddin Faiz, pada peluncuran buku Filsafat Perdamaian, di Warung Sastra, Kota Yogyakarta, Kamis (25/6/2026) malam.

Pertemuan itu menjadi ruang dialog yang membahas pentingnya literasi, filsafat sebagai cara berpikir, pengembangan karakter, hingga peningkatan dimensi kesadaran generasi muda, agar mampu menjadi agen perubahan di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.

Ali Syahbana mengatakan, kehadirannya tidak sekadar menghadiri peluncuran buku terbaru Fahruddin Faiz, tetapi juga memanfaatkan kesempatan untuk berdiskusi langsung mengenai berbagai isu strategis yang berkaitan dengan masa depan generasi muda.

“Suatu kehormatan bisa berdiskusi langsung dengan sosok yang selama ini menjadi inspirasi dalam dunia filsafat. Banyak pemikiran yang dapat diterjemahkan menjadi gerakan nyata untuk membangun kualitas pemuda di daerah,” ujarnya.

Menurut Ali, berbagai gagasan yang diperoleh akan menjadi bekal untuk memperkuat gerakan literasi, ruang diskusi intelektual, serta program pemberdayaan pemuda di Kalimantan Selatan, khususnya Kabupaten Banjar.

Ia meyakini pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga kualitas manusianya.

“Daerah membutuhkan generasi yang memiliki daya pikir kritis, karakter yang kuat, keluasan wawasan, serta semangat belajar sepanjang hayat,” katanya.

Dalam dialog tersebut, Fahruddin Faiz berpesan agar generasi muda Kalsel tidak pernah berhenti belajar.

Menurutnya, membaca merupakan pintu masuk untuk menemukan hikmah, memperluas cara pandang, dan membentuk pola pikir yang matang dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan.

“Belajar adalah kunci hidup. Teruslah membaca, karena dari membaca kita menemukan banyak hikmah. Lanjutkan apa yang sudah dimulai dan jangan pernah berhenti menebarkan kebaikan kepada masyarakat,” pesan Fahruddin Faiz.

Ali menambahkan, secara pribadi ia juga mendapat pesan agar terus memperjuangkan perluasan wawasan ilmu pengetahuan dan peningkatan dimensi kesadaran generasi muda.

Menurutnya, pesan tersebut menjadi dorongan moral untuk melahirkan generasi Banua yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak, mampu berpikir jernih di tengah derasnya arus informasi, serta menjadi pembawa solusi dan kedamaian bagi masyarakat.

Pertemuan ini diharapkannya dapat menginspirasi semakin banyak anak muda Kalsel untuk mendekatkan diri pada dunia literasi, filsafat, dan budaya membaca, sebagai bekal membangun masa depan daerah yang lebih berkualitas.

(Rls/Ang)