JURNALKALIMANTAN.COM, BARITO KUALA – Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Barito Kuala, Hery Sasmita, menilai pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXXVII Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2026 di Kota Marabahan, menjadi momentum strategis bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar.
Menurut Hery, ajang berskala provinsi yang diikuti kafilah dari 13 kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan tersebut memberikan peluang besar bagi UMKM untuk memperkenalkan produk unggulan daerah kepada masyarakat yang datang dari berbagai wilayah.
“MTQN ini diikuti 13 kabupaten/kota se-Kalsel. UMKM Batola dan Kalsel mendapat panggung gratis untuk promosi. Melalui Festival Kuliner Halal dan bazar di Kota Siring Marabahan, produk lokal langsung dikenal pengunjung dari berbagai daerah,” ujarnya saat ditemui di lokasi kegiatan, Kamis (18/6/2026).
Selain mendorong promosi produk lokal, Diskoperindag Batola juga mendukung penerapan transaksi non-tunai melalui penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) selama pelaksanaan MTQN.
Untuk meningkatkan partisipasi pedagang dan pengunjung, panitia menyiapkan hadiah senilai Rp7,5 juta. Sebanyak Rp5,5 juta dialokasikan untuk pedagang yang diundi berdasarkan jumlah transaksi QRIS terbanyak, sedangkan Rp2 juta diberikan dalam bentuk voucher kepada pembeli.
Adapun mekanisme undian bagi pembeli adalah satu kupon untuk setiap lima kali transaksi menggunakan QRIS.
“Digitalisasi ini bertujuan membiasakan UMKM dan pembeli menggunakan sistem cashless agar transaksi lebih tertib, transparan, dan tercatat. Jangan berhenti di event saja, QRIS harus terus digunakan,” tegas Hery.
Selama pelaksanaan MTQN, kawasan Kota Siring Marabahan dipadati stan bazar UMKM dari seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Konsep kegiatan dibagi menjadi dua bagian, yakni bazar pemerintah daerah yang menampilkan produk khas daerah serta Festival Kuliner Halal yang berfokus pada aktivitas transaksi dan promosi kuliner.
Berbagai produk unggulan daerah turut dipamerkan, mulai dari makanan khas, kerajinan berbahan purun dan rotan, hingga tas khas Banjar.
“Dua konsep ini saling menguatkan. Bazar Pemda mengenalkan identitas daerah, sedangkan festival kuliner menjadi ruang transaksi. UMKM mendapatkan dua manfaat sekaligus, yakni dikenal masyarakat dan produknya terjual,” jelasnya.
Usai pelaksanaan MTQN XXXVII, Diskoperindag Batola berencana terus melakukan pendampingan terhadap UMKM binaan agar mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk retail modern, marketplace, hingga pasar ekspor.
Pendampingan tersebut meliputi peningkatan kualitas produk, penguatan manajemen usaha, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran dan transaksi.
“Kami akan mengawal UMKM yang tampil di Kota Siring Marabahan ini agar benar-benar naik kelas. Kualitas produk harus terjaga, manajemen usaha diperkuat, dan digitalisasi terus berjalan. Dengan begitu UMKM Kalsel siap bersaing di tingkat nasional maupun global,” pungkas Hery.
(Adv/Alibana)













