SUN Pelopori Tambang Ramah Lingkungan, Targetkan 1.000 Kendaraan Listrik

Foto Bersama: Usai Kegiatan Groundbreaking Pengembangan Ekosistem Green Mining di Kaltim

JURNALKALIMANTAN.COM, BERAU – SUN, penyedia solusi energi dan elektrifikasi terintegrasi, memulai pengembangan ekosistem green mining di Kalimantan Timur melalui kegiatan groundbreaking. Proyek ini menjadi langkah awal transformasi industri pertambangan menuju operasional yang lebih efisien, modern, dan ramah lingkungan.

Pengembangan tersebut mencakup pembangunan pembangkit energi berkapasitas hingga 80 megawatt (MW), sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 160 megawatt-hour (MWh), serta ekspansi armada lebih dari 1.000 kendaraan listrik untuk mendukung operasional pertambangan.

SUN mengintegrasikan pembangkit energi terbarukan, penyimpanan daya, infrastruktur pengisian kendaraan listrik, hingga layanan pengelolaan operasional dalam satu ekosistem terpadu.

Director of Mobility SUN, Karina Darmawan, mengatakan elektrifikasi kini bukan sekadar upaya keberlanjutan lingkungan, tetapi juga strategi bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing industri pertambangan.

“Bagi industri pertambangan, elektrifikasi bukan lagi sekadar strategi keberlanjutan, tetapi keputusan bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Ketergantungan pada diesel menghadirkan tantangan biaya, distribusi, dan kepastian pasokan,” ujar Karina.

Foto: Kawasan Groundbreaking Pengembangan Ekosistem Green Mining di Kaltim

Menurutnya, SUN hadir sebagai mitra elektrifikasi yang menyediakan solusi menyeluruh, mulai dari pembangkitan energi, penyimpanan daya, infrastruktur pengisian, kendaraan listrik, hingga pengelolaan operasional.

Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) apung di area void atau bekas galian tambang yang tergenang air. Energi yang dihasilkan akan dipadukan dengan BESS untuk menjaga ketersediaan dan kestabilan pasokan listrik sesuai kebutuhan operasional.

Di sektor mobilitas, implementasi awal kendaraan listrik menjadi fondasi pengembangan armada hingga lebih dari 1.000 unit, meliputi kendaraan operasional ringan dan kendaraan pendukung logistik pertambangan.

Ekosistem ini juga dilengkapi stasiun pengisian daya, fasilitas bengkel (workshop), layanan pemeliharaan kendaraan, serta Fleet Management System untuk memantau dan mengelola armada secara terintegrasi.

Untuk mempermudah penerapan elektrifikasi, SUN menawarkan model bisnis Electrification as a Service. Melalui skema ini, perusahaan tambang dapat mengadopsi teknologi elektrifikasi tanpa harus mengeluarkan investasi modal awal (upfront CAPEX), sesuai cakupan layanan dan kesepakatan kerja sama.

SUN menyediakan layanan mulai dari perencanaan, pembangunan infrastruktur, penyediaan teknologi, hingga pengelolaan dan pemeliharaan operasional.

“Elektrifikasi pertambangan bukan sekadar mengganti kendaraan diesel dengan kendaraan listrik. Yang terpenting adalah memastikan seluruh ekosistemnya siap, termasuk pasokan energi, charging station, workshop, maintenance, dan sistem pengelolaan armada,” jelas Karina.

Ia menambahkan, model layanan tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi perusahaan tambang dalam mengadopsi elektrifikasi sekaligus memastikan dukungan operasional berjalan optimal.

Groundbreaking ini menjadi tonggak awal pengembangan ekosistem pertambangan berbasis energi bersih yang mengintegrasikan sektor energi dan mobilitas.

Melalui pengembangan tersebut, SUN optimistis elektrifikasi dapat membantu industri pertambangan mengoptimalkan biaya energi, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar diesel, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing.

“Green mining tidak harus dilihat sebagai tambahan biaya bagi industri. Dengan pendekatan dan teknologi yang tepat, elektrifikasi justru dapat menjadi peluang untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing,” tutup Karina.
(Sumber: SUN Kaltim)