‎Wamenkomdigi Ingatkan Ancaman Siber Berbasis AI Makin Nyata

Gambar oleh Alexandra dari Pixabay

‎JURNALKALIMANTAN.COM, YOGYAKARTA – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan bahwa ancaman siber di era kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) semakin nyata dan langsung menyasar kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari rekening bank, identitas pribadi, hingga perangkat digital.

‎Nezar menjelaskan, pola serangan siber kini semakin canggih dan tidak selalu bergantung pada kelalaian pengguna. Dengan teknologi AI, serangan dapat terjadi tanpa interaksi korban.

[feed_them_social cpt_id=59908]

‎“Sekarang ada zero click attack. Cukup pesan masuk, malware sudah bisa bekerja tanpa perlu diklik,” ujarnya saat Workshop Cybersecurity di BPSDMP Komdigi Yogyakarta, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu kemarin (31/1/2026).

‎Dikutip dari infopublik.id, Nezar menyebut pemanfaatan AI membuat serangan siber berlangsung lebih cepat dan masif. Sistem otomatis memungkinkan pelaku memindai jutaan sistem dalam waktu singkat dan memilih target bernilai tinggi.

‎Mengacu data Boston Consulting Group (BCG) Desember 2025, ia mengatakan laju serangan siber saat ini lebih cepat dibanding kemampuan pertahanan digital, sehingga banyak korban tidak menyadari telah diserang.

‎Selain sistem, kejahatan siber berbasis AI juga menyasar sisi psikologis korban melalui teknologi deepfake yang mampu meniru wajah dan suara secara meyakinkan.

‎“Banyak korban tertipu karena merasa berinteraksi dengan orang yang mereka kenal,” jelasnya.

‎Nezar juga menyoroti melemahnya sistem keamanan konvensional seperti kata sandi. Perkembangan AI dan riset komputasi kuantum dinilai membuat metode lama semakin tidak relevan.

‎“Password yang kita pakai hari ini pada akhirnya bisa menjadi tidak bermakna. Dunia sedang menuju era pasca-kuantum,” katanya.

‎Menurutnya, selama perangkat saling terhubung, tidak ada ruang yang benar-benar aman di dunia digital. Ancaman bisa datang dari ponsel, aplikasi, hingga perangkat sederhana yang terhubung jaringan.

‎“Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital,” tegasnya.

‎Untuk itu, Kemkomdigi mendorong penerapan security by design, yakni menjadikan keamanan sebagai bagian inti sejak awal pengembangan sistem.

‎“Keamanan siber bukan hanya soal teknologi, tetapi juga kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan,” pungkas Nezar.

‎Melalui penguatan talenta, arsitektur keamanan digital, dan literasi publik, Kemkomdigi menegaskan komitmen negara melindungi masyarakat di ruang digital di tengah pesatnya perkembangan AI. (YUN)

[feed_them_social cpt_id=57496]