68 Persen Perusahaan di Indonesia Kesulitan Isi Posisi Manajer Menengah

ilustrasi posisi Manajer Menengah (vecteezy.com)

JURNALKALIMANTAN.COM, JAKARTA — Riset terbaru Robert Walters mengungkap 68 persen perusahaan di Indonesia mulai mengalami kesulitan mengisi posisi manajer tingkat menengah (middle management).

Di sisi lain, mayoritas profesional muda dari generasi Z (Gen Z) sebenarnya bersedia mengambil peran tersebut. Sebanyak 75 persen responden menilai posisi manajer sebagai tahap penting dalam jenjang karier.

Namun, minat tersebut terhambat oleh ketidaksesuaian ekspektasi, terutama terkait kompensasi dan beban kerja. Banyak profesional muda menilai tanggung jawab yang diemban tidak sebanding dengan imbalan yang diterima.

Fenomena ini juga mencerminkan tren global “conscious unbossing”, di mana generasi muda cenderung menghindari peran manajerial. Di Indonesia, kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor struktural, seperti desain peran, lingkungan kerja, serta kompensasi.

Dari sisi persepsi, hanya 27 persen responden yang melihat manajer mereka sebagai sosok inspiratif. Sementara itu, 33 persen menilai manajer tingkat menengah saat ini berada dalam tekanan kerja berlebih, dan 27 persen lainnya menilai posisi tersebut memiliki tanggung jawab besar namun kewenangan terbatas.

Country Head Robert Walters Indonesia, Eric Mary, menyebut jabatan manajer tidak lagi otomatis menarik bagi generasi muda.

“Gen Z ingin memimpin, tetapi mereka melihat tekanan yang dihadapi manajer saat ini. Mereka ragu melangkah jika kompensasi tidak sebanding dengan tanggung jawab,” ujarnya.

Survei menunjukkan, 64 persen responden menyebut peningkatan gaji sebagai faktor utama yang dapat mendorong mereka menerima posisi manajerial. Faktor lain yang dipertimbangkan antara lain kejelasan otoritas pengambilan keputusan (38 persen) dan keseimbangan kerja-hidup (24 persen).

Namun, hanya 38 persen perusahaan yang mengaku tengah meninjau ulang paket gaji dan insentif. Sebagian besar perusahaan justru lebih fokus pada jalur promosi (69 persen) dan program pengembangan kepemimpinan (62 persen).

Associate Director Robert Walters Indonesia, Michelle Tanjung, menilai realitas di Indonesia membuat generasi muda lebih berhitung dalam mengambil keputusan karier.

“Banyak profesional muda harus menyeimbangkan tuntutan finansial keluarga dengan karier mereka. Mereka ingin maju, tetapi juga realistis melihat beban kerja dan imbalan yang diterima,” katanya.

Temuan ini juga memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan kepemimpinan di perusahaan. Sebanyak 64 persen organisasi menyebut keberadaan pipeline manajer yang kuat penting untuk mendukung suksesi kepemimpinan senior.

Meski demikian, 36 persen perusahaan mengaku belum mengambil langkah konkret untuk mengatasi kesenjangan tersebut.

Robert Walters merekomendasikan tiga langkah utama bagi perusahaan, yakni menyesuaikan kompensasi, memperbaiki desain peran manajerial, serta meningkatkan visibilitas dan apresiasi terhadap posisi manajer tingkat menengah.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan kepemimpinan dan daya saing organisasi di masa depan. (Viz)