JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Kasus kekerasan yang terjadi di sebuah sekolah negeri di Banjarmasin telah menjadi sorotan publik, dan menyebabkan kekhawatiran di kalangan dunia pendidikan. Hal ini juga menjadi keprihatinan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan Hj. Nurliani Dardie, yang berinisiasi akan mengadakan seminar bertajuk “Peran Guru dan Orang Tua dalam Penanganan Bullying di Sekolah”.
Untuk itu, pihaknya berencana melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, beserta Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum.
“Kita sudah melakukan komunikasi awal dengan RSJ, mereka siap untuk mendatangkan narasumber. Sedangkan Dispersip bakal menyiapkan tempat dan komsumsi peserta. Namun kita juga akan koordinasikan dengan satuan kerja perangkat daerah terkait, seperti Dinas Pendidikan, serta Dinas Perlindungan Anak,” ungkap Hj. Nurliani.
Ia menginginkan, kolaborasi dan bersinergi ini dapat segera terwujud.
“Semoga nanti bisa bertemu dengan para guru se-Kalsel dan orang tua, agar dapat memberikan pemahaman terkait penanganan kasus ini,” ungkap Bunda Nunung (sapaan akrab Kepala Dispersip Kalsel).
Apalagi menurutnya, perundungan sangatlah mengerikan, sehingga perlu peran gabungan antara orang tua dan guru.
Berdasarkan laporan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), kasus perundungan di sekolah mayoritas dilakukan oleh siswa. Dari 16 kasus selama Januari–Juli 2023, terdapat 87 siswa yang merupakan pelaku. Sisanya dilakukan 5 pendidik (5,3%), 1 orang tua peserta didik (1,1%) , dan 1 kepala madrasah (1,1%).
Adapun korban terbesar adalah siswa (95,4%). Sedangkan tempat terjadinya mayoritas di SD (25%), SMP (25%), SMA (18,75%), SMK (18,75%), MTs (6,25%), dan pesantren (6,25%).
“Tentunya hal ini harus jadi perhatian khusus. Diperlukan pemahaman terhadap tindak bullying dan di sini peran kolaborasi dari sekolah dan orang tua,” pungkas Kepala Dispersip Kalsel.














