‎Suripno Sumas Dorong Penguatan Pancasila Dengan Tausyiah Keagamaan

Wakil ketua komisi II DPRD Kalsel H Suripno sumas bersama narasumber wawasan kebangsaan

‎JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Penguatan nilai-nilai Pancasila dinilai perlu terus dilakukan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya dengan mengintegrasikan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai keagamaan agar semangat nasionalisme berjalan seiring dengan pembentukan akhlak dan moral.

‎Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Selatan sekaligus Ketua Fraksi PKB DPRD Kalsel, Suripno Sumas, saat sosialisasi Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai-Nilai Ideologi Pancasila yang diikuti masyarakat Kecamatan Banjarmasin Tengah, Sabtu (27/6/2028).

Menurut Suripno, Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi menjadi pedoman yang harus terus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

‎Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan dinilai penting agar masyarakat tidak kehilangan arah dalam menjaga persatuan.

‎”Dengan kegiatan ini, diharapkan masyarakat kembali mengingat dan memahami bahwa Pancasila merupakan modal dasar bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga agar tidak melenceng dari cita-cita para pendiri bangsa,” ujarnya.

‎Ia menilai pendekatan melalui tausyiah menjadi salah satu cara efektif menyampaikan pesan kebangsaan karena mampu menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya persaudaraan, toleransi, dan tanggung jawab sosial.

‎Sementara itu, narasumber kegiatan, Ustadz Muhari, menekankan pentingnya mengamalkan sila pertama dan sila ketiga Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

‎Menurutnya, sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan setiap warga negara untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan sekaligus menghormati perbedaan keyakinan. Adapun sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi landasan menjaga kerukunan di tengah keberagaman suku, agama, ras, dan budaya.

‎”Kita harus saling rukun, saling menghormati meskipun berbeda. Perbedaan bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan untuk bersama-sama membangun Indonesia,” kata Muhari.

‎Melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan yang dipadukan dengan pendekatan keagamaan, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami Pancasila secara konseptual, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai fondasi menjaga persatuan, memperkuat toleransi, dan merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (YUN)