JURNALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid menilai Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) tidak hanya memperkuat perlindungan anak di ruang digital, tetapi juga menjadi momentum menghidupkan kembali budaya menonton film di kalangan generasi muda.
Hal itu disampaikan Meutya saat menerima audiensi Badan Perfilman Indonesia di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Rabu (1/7).
Menurut Meutya, perlindungan anak di ruang digital harus berjalan beriringan dengan upaya membangun kembali budaya Indonesia, termasuk kebiasaan menonton film di bioskop maupun menikmati karya perfilman nasional.
“Child online safety itu memang harus berbarengan kerjanya dengan menumbuhkan kembali budaya-budaya di Indonesia, termasuk nonton film dan ke bioskop,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu perhatian dalam PP TUNAS adalah tingginya risiko kecanduan terhadap konten digital berformat pendek atau infinite scrolling. Kebiasaan tersebut, menurutnya, membuat banyak orang, terutama anak muda, semakin sulit berkonsentrasi untuk menikmati konten berdurasi panjang seperti film.
“Dari infinite scrolling di mana orang menonton konten pendek dalam jumlah banyak, budaya menonton film berdurasi satu hingga dua jam perlu dihidupkan kembali agar konsentrasi anak-anak muda kembali terlatih,” katanya.
Meutya menegaskan, implementasi PP TUNAS diharapkan tidak hanya memberikan perlindungan bagi anak-anak, tetapi juga memberi dampak positif terhadap berbagai sektor industri, seperti perfilman, penyiaran, hingga penerbitan buku.
Menurutnya, dengan semakin berkurangnya paparan konten digital yang berlebihan, anak-anak diharapkan kembali memiliki minat menonton tayangan berkualitas, membaca buku, dan menikmati karya budaya yang lebih mendidik.
Ia juga menyebut perusahaan-perusahaan digital global menunjukkan komitmen untuk mematuhi ketentuan PP TUNAS karena kebijakan tersebut dinilai dapat menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat bagi anak-anak sekaligus mendukung pertumbuhan industri kreatif.
“Upaya ini pada akhirnya akan menghasilkan industri yang lebih sehat, sekaligus memberikan ruang yang lebih aman bagi anak-anak di dunia digital,” pungkasnya.
(komdigi)













