Jelang HUT RI, Menkomdigi Minta Media Lawan Hoaks

Menkomdigi Meutya Hafid memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat ( Foto: Pey HS/Komdigi)

JURNALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, media sosial diramaikan dengan beredarnya konten video aksi demonstrasi yang menyesatkan. Sebagian besar konten tersebut diketahui merupakan video lama atau hasil manipulasi yang disajikan seolah-olah peristiwa baru.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya, sekaligus mengajak media massa untuk berperan aktif melawan arus disinformasi.

“Teman-teman media silakan meliput dan memberitakan yang benar dengan cepat agar tidak memberi ruang kepada disinformasi yang masuk,” ujar Meutya di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, kemarin.

Menurutnya, kecepatan media dalam menyampaikan informasi yang akurat dan terverifikasi menjadi kunci penting untuk menekan penyebaran hoaks yang berpotensi menimbulkan keresahan publik.

Meutya menjelaskan, pola penyebaran hoaks kini semakin beragam. Tidak hanya berupa informasi yang sepenuhnya salah, tetapi juga memanfaatkan video lama, potongan kejadian di luar negeri, hingga konten yang diedit untuk membangun narasi tertentu.

“Ada yang betul-betul hoaks karena kejadiannya tidak pernah ada. Ada yang menggunakan gambar lama dengan konteks berbeda. Ada pula yang menggabungkan kejadian di negara lain seolah-olah terjadi di Indonesia,” jelasnya.

Ia menilai, konten-konten tersebut kerap memunculkan kesan seolah terjadi aksi demonstrasi besar yang tidak diberitakan, bahkan disertai tudingan adanya upaya penghapusan informasi.

Padahal, menurut Meutya, penyebaran ulang video lama tanpa konteks waktu dan lokasi yang jelas dapat membentuk persepsi keliru di masyarakat.

“Penyebaran informasi palsu bukan hanya persoalan konten digital. Dampaknya nyata, ada yang jadi takut keluar rumah, ada yang khawatir saat bekerja. Ini mencederai nilai demokrasi dan semangat nasionalisme,” tegasnya.

Dalam situasi tersebut, Meutya menekankan pentingnya peran media sebagai penjaga kualitas informasi publik. Pemberitaan yang cepat, akurat, dan berimbang dinilai mampu menutup celah bagi narasi palsu yang sengaja dibangun.

“Informasi yang benar adalah tanggung jawab bersama. Media memiliki peran penting untuk memastikan masyarakat mendapatkan fakta, bukan informasi yang sengaja dibuat untuk menimbulkan ketakutan,” ujarnya.

Selain kepada media, Meutya juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial. Ia meminta publik tidak ikut menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya, terutama yang berpotensi memicu kepanikan.

“Maka saya mengimbau, jangan menyebarkan informasi palsu dengan tujuan membuat ketakutan di tengah masyarakat menggunakan data yang tidak benar,” pungkasnya. (Viz)