JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Bank Kalsel memperkuat penerapan budaya keselamatan dan kesehatan kerja melalui Workshop Kebijakan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) serta Uji Coba/Simulasi Prosedur Tanggap Darurat Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 6 – 7 November 2026, di Banjarmasin tersebut resmi dibuka Direktur Operasional Bank Kalsel, Iwan, pada Jumat (6/11/2026).
Workshop diikuti perwakilan seluruh divisi dan kantor cabang Bank Kalsel. Adapun materi disampaikan Fajar Atrifani, S.E., M.M., BCCS, bersama tim dari BCM Indonesia.
Dalam sambutannya, Iwan menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan tanggung jawab bersama, baik Bank Kalsel sebagai pemberi kerja, seluruh pegawai, maupun pihak lain yang beraktivitas di lingkungan perbankan.
Menurutnya, penerapan SMK3 tidak boleh berhenti pada kebijakan tertulis, tetapi harus menjadi bagian dari budaya kerja yang dipahami dan diterapkan seluruh pegawai.
“Penerapan SMK3 tidak cukup hanya berupa kebijakan tertulis. SMK3 harus dipahami, dilaksanakan, dan dibiasakan dalam aktivitas kerja sehari-hari,” ujar Iwan.
Ia menjelaskan, berbagai potensi keadaan darurat, seperti kebakaran, gempa bumi, maupun gangguan operasional lainnya, membutuhkan kesiapsiagaan yang terencana.
Sebab, kelalaian dalam penerapan keselamatan kerja tidak hanya berisiko terhadap keselamatan manusia, tetapi juga dapat berdampak pada aset perusahaan, keberlangsungan layanan, hingga aspek kepatuhan perbankan.
Selama workshop, peserta dibekali pemahaman mengenai kebijakan SMK3, prosedur tanggap darurat, praktik evakuasi lapangan, serta evaluasi untuk perbaikan berkelanjutan. Kegiatan tersebut juga mencakup uji coba Business Continuity Plan (BCP) guna memastikan kesiapan bank menghadapi gangguan operasional.
Iwan pun menekankan empat hal penting yang harus menjadi perhatian peserta.
Pertama, seluruh peserta diminta mengikuti sosialisasi secara sungguh-sungguh agar memahami potensi bahaya, jalur pelaporan, pembagian peran, serta tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat.
Kedua, pelaksanaan simulasi harus dilakukan secara tertib dan disiplin sesuai arahan narasumber, dengan tetap mengutamakan keselamatan peserta dan menghindari munculnya risiko baru selama latihan.
Ketiga, memastikan kesiapan Tim Tanggap Darurat dan Tim Evakuasi, termasuk koordinasi antarunit kerja, kejelasan jalur evakuasi dan titik kumpul, serta berfungsinya sarana keselamatan seperti alat pemadam api ringan (APAR) dan sistem peringatan dini.
Keempat, memanfaatkan uji coba BCP untuk mengukur kesiapan bank dalam menjaga maupun memulihkan fungsi dan layanan kritis ketika terjadi gangguan. Hal ini mencakup kejelasan komunikasi, pembagian peran, hingga mekanisme eskalasi keputusan.
“Manajemen berharap kegiatan ini tidak sekadar memenuhi agenda pelatihan dan kepatuhan, tetapi membangun budaya sadar risiko, peduli keselamatan, dan siap menghadapi keadaan darurat di seluruh lingkungan Bank Kalsel,” kata Iwan.
Pada kesempatan tersebut, Iwan juga menyampaikan apresiasi kepada Divisi Umum, Divisi Human Capital, seluruh unit kerja terkait, serta BCM Indonesia atas dukungan dan koordinasi dalam mempersiapkan kegiatan.
Melalui workshop ini, Bank Kalsel berharap penerapan SMK3 semakin optimal dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat dapat terbangun secara menyeluruh, sehingga keselamatan pegawai serta keberlangsungan pelayanan kepada nasabah tetap terjaga.
(Adv/Bank Kalsel)













